— JAKARTA – Banyak generasi Z yang baru memulai karier merasa kesulitan untuk berinvestasi karena terkendala modal yang terbatas. Alih-alih menabung secara bertahap, sebagian dari mereka justru memilih mencari pinjaman dengan asumsi modal besar akan menghasilkan keuntungan lebih besar. Namun, ada alternatif yang lebih aman dan terjangkau, yaitu micro investing, yang memungkinkan investasi dimulai hanya dengan nominal Rp 10.000 hingga Rp 100.000 per bulan.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa kelompok usia 19-34 tahun, yang mencakup Gen Z dan milenial, mendominasi pinjaman fintech P2P Lending dengan total Rp 38,34 triliun. Sebagian dari pinjaman ini dilaporkan menunggak pembayaran, yang mengindikasikan adanya potensi penggunaan dana pinjaman untuk modal investasi padahal kebutuhan tersebut dapat dipenuhi tanpa berutang.

Micro Investing: Kunci Investasi Minim Modal

Micro investing merupakan konsep investasi dengan nominal kecil yang dilakukan secara rutin. Konsep ini menekankan konsistensi investor dalam menyisihkan sebagian penghasilan untuk instrumen investasi pilihan, seperti reksa dana, obligasi, atau pasar uang. Fleksibilitas micro investing memungkinkan alokasi dana dari sisa transaksi belanja harian, dengan pilihan modal mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 100.000. Strategi ini dikenal juga sebagai dollar cost averaging.

Skema ini sangat cocok bagi Gen Z yang ingin memulai investasi tanpa perlu berutang. Banyak instrumen investasi, seperti reksa dana, kini dilengkapi fitur auto debit yang secara otomatis menarik dana dari rekening bank investor untuk dipindahkan ke Rekening Dana Nasabah (RDN). Fitur ini mempermudah investor dalam menerapkan strategi dollar cost averaging, yaitu membeli aset secara rutin dengan jumlah uang yang sama dalam jangka waktu tertentu tanpa memedulikan fluktuasi harga pasar.

Tersedia pula opsi auto subscription yang lebih praktis, di mana dana ditarik langsung dari RDN atau e-wallet terintegrasi untuk diinvestasikan pada produk reksa dana yang telah ditentukan. Melalui micro investing, investor dapat mengelola risiko secara terukur sambil mempelajari dinamika pasar tanpa perlu khawatir tentang besaran modal awal.

Kebiasaan ini juga berpotensi menumbuhkan disiplin finansial. Investor akan lebih terdorong untuk menyisihkan sebagian gaji untuk investasi sebelum pengeluaran lain, daripada menghabiskan seluruh gaji dengan asumsi sisa dana tidak dapat diinvestasikan.

Perhatian Penting dalam Micro Investing

Meskipun terkesan mudah dan minim risiko, Gen Z tetap disarankan untuk melakukan riset mendalam sebelum menanamkan modal. Pemilihan produk investasi menjadi krusial karena modal yang kecil dapat membatasi pilihan instrumen. Investor perlu meneliti profil risiko dan potensi instrumen yang akan dipilih.

Selain keterbatasan produk, biaya platform juga perlu diperhitungkan agar hasil investasi tidak tergerus biaya administrasi atau pengelolaan. Untuk menghindari kerugian, Gen Z disarankan untuk menetapkan tujuan finansial yang jelas, mempelajari profil risiko setiap instrumen sesuai anggaran yang dimiliki, serta menjaga konsistensi berinvestasi sejak awal.