— Bagi para pekerja muda, menerima gaji pertama merupakan momen penting yang kerap diwarnai euforia kemandirian finansial. Momen ini seringkali memicu keinginan untuk membeli barang impian, mencoba tempat nongkrong baru, atau bahkan langsung terjun ke dunia investasi demi mencapai kebebasan finansial.

Namun, euforia tersebut bisa berujung pada siklus ‘paycheck to paycheck’ jika pengelolaan keuangan tidak dilakukan dengan baik. Tanpa perencanaan yang matang, gaji pertama bisa habis dalam hitungan hari dan berpotensi menimbulkan masalah keuangan di masa depan, terutama saat menghadapi situasi darurat.

Menurut data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik Nasional (BPS) pada September 2026, generasi muda menunjukkan keterlibatan tinggi dalam dunia keuangan. Indeks literasi keuangan tercatat sebesar 73,32% dan tingkat inklusi keuangan mencapai 95,00%.

Angka-angka ini mengindikasikan bahwa Gen Z dan milenial muda aktif berinteraksi dengan berbagai layanan keuangan digital, mulai dari dompet digital, perbankan mobile, hingga aplikasi investasi mikro. Namun, OJK mengingatkan bahwa tingginya akses terhadap produk keuangan tidak secara otomatis menjamin kemampuan mengambil keputusan finansial yang bijak.

Untuk mencegah gaji pertama habis tanpa tujuan yang jelas, pemula dapat menerapkan metode penganggaran proporsional, salah satunya adalah rumus klasik 50-30-20. Dikutip dari laman PT Pegadaian, rumus ini menyarankan alokasi 50% pendapatan untuk kebutuhan pokok dan operasional bulanan, seperti makan, tagihan, transportasi, dan utilitas.

Selanjutnya, 30% dari pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan gaya hidup atau ‘wants’, termasuk hiburan dan belanja pribadi. Sisa 20% dari gaji pertama wajib disisihkan sejak awal untuk tabungan dan investasi.

Sebelum berinvestasi pada instrumen berisiko tinggi demi keuntungan cepat, prioritas utama adalah membangun dana darurat. Dana darurat berfungsi sebagai jaring pengaman untuk kejadian tak terduga, seperti pemutusan hubungan kerja atau kebutuhan medis mendesak.

Setelah fondasi dana darurat terbentuk dan kondisi keuangan harian stabil, investasi dapat mulai dimaksimalkan secara bertahap. Pemilihan produk investasi harus disesuaikan dengan profil risiko dan jangka waktu tujuan keuangan. Instrumen berisiko rendah seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) cocok untuk jangka pendek.

Untuk tujuan jangka panjang, instrumen seperti pasar saham dan reksa dana saham dapat dipertimbangkan. Kesuksesan pengelolaan keuangan jangka panjang sangat bergantung pada konsistensi dan ketekunan. Menikmati gaya hidup modern dan membangun masa depan keuangan yang stabil dapat dicapai bersamaan dengan perencanaan yang tepat.