— JAKARTA – Saham PT Antam Tbk (ANTM) menjadi incaran investor asing dalam sepekan terakhir, dengan total pembelian bersih (net buy) mencapai Rp 692,6 miliar. Aksi borong ini terjadi di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 7-11 September 2026, berdasarkan data Stockbit Sekuritas.

Pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026), saham ANTM tercatat stagnan di level Rp 3.270. Dalam sepekan, saham perusahaan tambang ini mengalami penguatan 4,8%, sementara dalam sebulan tercatat menguat 4,1%. Secara year to date (ytd), ANTM telah meningkat 3,8%.

Secara kinerja, Antam berhasil mempertahankan tren positif pada semester I-2026. Pendapatan perusahaan tumbuh 6% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 62,7 triliun, dengan laba bersih melonjak 36% yoy menjadi Rp 6,38 triliun.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menilai penguatan laba emiten berkode saham ANTM ini ditopang oleh kinerja segmen bijih nikel, feronikel, dan bauksit. Laba kotor Antam naik 32% menjadi Rp 10,8 triliun dengan margin 17,3%. Laba usaha meningkat 38% menjadi Rp 8,4 triliun, sementara EBITDA tumbuh 35% yoy menjadi Rp 8,9 triliun dengan margin EBITDA sebesar 14,2%.

Kinerja Operasional Antam

Dari sisi operasional, penjualan emas Antam mencapai 18,1 ton pada semester I-2026. Pada kuartal II-2026, volume penjualan emas naik 14% secara kuartalan (qoq) menjadi 9,6 ton. Pendapatan dari segmen emas tetap solid mencapai Rp 50,12 triliun atau naik 1% yoy.

Kinerja logam dasar juga menunjukkan penguatan. Pendapatan bijih nikel meningkat 28% menjadi Rp 8,6 triliun, meskipun volume penjualan turun 17% menjadi 6,7 juta wet metric ton (wmt). Demikian disampaikan Adrian dalam risetnya, dikutip Minggu (13/9/2026).

Feronikel menjadi salah satu penopang utama Antam. Volume penjualan pada semester I-2026 mencapai 7.605 TNi (ton nikel yang terkandung dalam feronikel), naik 32% yoy. Hal ini mendorong lonjakan pendapatan segmen feronikel sebesar 56% menjadi Rp 1,8 triliun.

Penjualan bauksit juga mengalami peningkatan 21% menjadi 1,26 juta wmt, yang mendorong pendapatan naik 60% menjadi Rp 867 miliar. Produksi alumina meningkat 12% menjadi 100.257 ton, sementara penjualannya tumbuh 10% menjadi 100.437 ton.

Rekomendasi dan Target Harga

Berdasarkan kinerja positif tersebut, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ANTM dengan target harga 12 bulan sebesar Rp 4.100. Target harga ini mencerminkan potensi kenaikan harga saham sebesar 25,3% dari posisi harga terakhir.

Target harga ANTM disusun menggunakan valuasi relatif dengan price to earnings ratio (P/E) sebesar 10,5 kali. Pada valuasi tersebut, Antam diperdagangkan pada proyeksi P/E 2026 sebesar 10,5 kali dan rasio price to book value (P/BV) sebesar 2,4 kali.

Risiko yang perlu dicermati investor meliputi pelemahan harga emas dan nikel global, potensi keterlambatan proyek hilirisasi, serta perubahan regulasi yang dapat memengaruhi penjualan bijih domestik dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Antam.