DailyFX.ID — Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dinilai menarik dicermati untuk perdagangan jangka pendek di tengah mulai membaiknya sentimen pasar saham domestik. Pengamat pasar modal, Hendra Wardana mengungkapkan bahwa peluang pada saham BUMI dan BBRI muncul ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) mulai bergerak lebih konstruktif.
Dalam sepekan, IHSG tercatat menguat 3,5%, bersamaan dengan munculnya kembali aksi beli bersih investor asing, penguatan rupiah, pertumbuhan kredit, serta perbaikan neraca pembayaran. Meski demikian, Hendra menilai penguatan pasar saat ini belum dapat langsung dianggap sebagai awal fase pasar bullish atau bull market baru. IHSG masih membutuhkan konfirmasi melalui konsistensi pembelian bersih investor asing (foreign net buy) serta kemampuan IHSG menembus area resistance 6.580-6.650.
Dari sisi sektoral, perbankan masih menjadi salah satu sektor yang menarik diperhatikan. Kondisi tersebut ditopang pertumbuhan kredit nasional sebesar 13% dan likuiditas uang beredar dalam arti luas atau M2 yang tumbuh 8,3%.
“BBRI dapat dicermati dengan strategi trading buy dan target harga Rp 3.420. Saham BBRI memiliki keunggulan dari sisi likuiditas dan bobot yang besar terhadap IHSG,” kata Hendra di Jakarta, Minggu (23/8/2026). Karakter tersebut membuat BBRI berpotensi menjadi salah satu saham penggerak IHSG apabila arus dana investor asing terus masuk ke pasar domestik. Karena itu, arah aliran modal asing menjadi salah satu sentimen penting yang perlu diperhatikan.
Selain sektor perbankan, saham energi dan pertambangan juga dinilai masih memiliki peluang, seiring harga komoditas yang relatif tinggi. Salah satu saham yang masuk radar adalah saham BUMI.
BUMI juga dapat dicermati dengan strategi trading buy dan target harga Rp 230. Namun, Hendra mengingatkan saham tersebut memiliki karakter pergerakan yang volatil. Karena volatilitasnya tinggi, BUMI dinilai lebih cocok untuk investor agresif yang memiliki toleransi risiko besar. “Investor juga perlu disiplin menetapkan batas risiko dalam melakukan perdagangan saham BUMI,” jelas pendiri Republik Investor tersebut.
Sementara itu, Samuel Sekuritas dalam risetnya mempertahankan rekomendasi beli saham Bumi Resources (BUMI) dengan target harga yang tinggi sebesar Rp 300. Target harga saham BUMI berdasarkan metode valuasi sum of the parts (SOTP), yakni pendekatan yang menghitung nilai perusahaan berdasarkan penjumlahan nilai masing-masing unit bisnis atau aset.
Di lain pihak, KB Valbury Sekuritas dalam risetnya mempertahankan rekomendasi buy saham BRI (BBRI) dengan target harga berbasis Gordon Growth Model (GGM) sebesar Rp 4.010. Target harga tersebut setara dengan price to book value (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi 2026. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi yang sangat murah.
BRMS dan SRTG Ikut Masuk Radar
Selain BUMI dan BBRI, Hendra juga mencermati saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Saham BRMS dapat dipertimbangkan dengan strategi speculative buy dan target harga Rp 750. Harga emas yang masih berada pada level tinggi dinilai menjadi katalis positif bagi perusahaan pertambangan emas, termasuk BRMS. Namun, volatilitas BRMS yang relatif tinggi membuat saham ini lebih sesuai bagi investor dengan toleransi risiko besar.
Kemudian, saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) juga dapat menjadi alternatif speculative buy dengan target harga Rp 2.200. SRTG memiliki eksposur terhadap beragam aset investasi dan berpotensi memperoleh sentimen positif ketika pasar saham domestik memasuki fase pemulihan. Namun, SRTG dinilai lebih tepat ditempatkan sebagai posisi spekulatif. Pergerakan SRTG tidak selalu secepat saham-saham yang menjadi penggerak utama IHSG.
Ikuti DailyFX.ID
