— JAKARTA – Investor asing melakukan pembelian bersih (net buy) saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 559 miliar pada pekan ini, periode 3-7 Agustus 2026. Aksi ini berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya yang mencatat jual bersih (net sell) Rp 36 miliar.

Selama sepekan, harga saham BBRI tercatat menguat 2,96%. Pada penutupan perdagangan Jumat (8/8/2026), saham bank BUMN ini berada di level Rp 3.130. Dalam satu bulan terakhir, saham BBRI telah melambung 12,19%.

Analis JP Morgan memandang positif saham BBRI setelah melihat adanya perbaikan signifikan. Mereka merevisi rekomendasi saham BBRI menjadi ‘overweight’ dengan target harga Rp 3.400. Target ini didasarkan pada Price to Book Value (PBV) wajar 1,2 kali dengan Return on Equity (ROE) 17,4%, risk free rate 7%, biaya modal 15,4%, dan terminal growth rate 7%.

JP Morgan menilai bisnis kredit mikro BRI sangat kuat dan mampu menghasilkan profitabilitas besar. Meskipun sempat mengalami pemburukan aset yang menghambat profitabilitas, masalah tersebut kini mulai diperbaiki. Perbaikan ini didukung oleh peningkatan internal perseroan dan berbagai program pemerintah yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah.

JP Morgan memprediksi konsensus pasar akan segera merevisi proyeksi kinerja keuangan BBRI. Valuasi saham BBRI yang masih murah dianggap sebagai katalis kuat untuk reli saham bank tersebut.

Sementara itu, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBRI dengan target harga berbasis Gordon Growth Model (GGM) sebesar Rp 4.010. Target harga ini setara dengan Price to Book Value (P/B) 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026.

Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi yang sangat murah, yakni P/B 2026 sebesar 1,2 kali, sedikit di bawah level -2 standar deviasi (-2SD) yang sebesar 1,5 kali. Potensi katalis positif bagi saham BBRI meliputi pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari ekspektasi, penyesuaian ulang imbal hasil kredit secara moderat yang dapat membantu Net Interest Margin (NIM) melampaui panduan 2026, serta Cost of Credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan seiring perbaikan kualitas aset.

Pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga diprediksi menjadi katalis utama bagi pertumbuhan Pre-Provision Operating Profit (PPOP). Namun, risiko utama yang perlu diwaspadai adalah pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi, kenaikan pencadangan yang jauh lebih besar, sentimen negatif domestik yang berlanjut, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.