DailyFX.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un telah merespons iktikad komunikasinya baru-baru ini. Klaim ini disampaikan sehari setelah Trump menginstruksikan pengurangan skala latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan, sembari memuji hubungan dekatnya dengan sang pemimpin Korea Utara.
Trump menegaskan pendekatan personal yang ia jalin dengan Kim Jong Un berhasil membuat situasi dunia menjadi “jauh lebih aman”. Meski pernah tiga kali bertemu pada masa jabatan pertamanya di Gedung Putih, keduanya belum pernah bertemu kembali secara langsung sejak Trump memimpin pada periode kedua.
“Anda tahu, saya justru membuat situasi menjadi jauh lebih aman. Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan rasa hormat yang besar. Saya memahami dia, dan dia pun memahami saya,” ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih.
Ketika ditanya mengenai apakah Kim Jong Un benar-benar telah membalas pesannya sejak dirinya kembali menjabat, Trump menjawab singkat, “Ya, dia sudah merespons.” Namun, saat ditanya mengenai sejauh mana tahapan komunikasi tersebut berlangsung, Trump hanya menyebutnya berjalan positif tanpa merincikan rincian lebih lanjut.
Soroti Sikap Korsel dan Isu Konflik Iran
Langkah diplomasi Trump kali ini diiringi kritik pedas terhadap sekutu utamanya di Asia, Korea Selatan. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump secara mendadak mengumumkan telah memerintahkan Pentagon untuk memangkas latihan militer gabungan dengan Seoul yang ia sebut tidak tepat dan cenderung memprovokasi Korea Utara.
Trump bahkan mengaitkan keputusan pemangkasan latihan tersebut dengan ketidaksediaan Korea Selatan untuk membantu AS dalam konflik militer dengan Iran.
“Tunggu dulu. Kita menempatkan 39.000 prajurit di sana untuk melindungi kalian dari Kim Jong Un, tetangga sebelah kalian. Tapi kalian tidak mau membantu kita dalam operasi militer yang sangat mudah di Iran. Ini aneh,” kata Trump.
Sikap Trump ini kembali memicu keprihatinan dari kalangan legislatif AS serta para sekutu di Asia. Anggota Senat AS dari Partai Demokrat, Jack Reed, menilai keputusan tersebut sangat gegabah. “Ini adalah keputusan konyol dan asal-asalan dari Presiden Trump. Negara-negara seperti China dan Rusia sedang memperhatikan betapa mudahnya presiden ini membelakangi sekutu Amerika,” tegas Reed.
Di sisi lain, pihak militer Korea Selatan mengonfirmasi jadwal latihan militer gabungan Ulchi Freedom Shield dipangkas dan diselesaikan lebih cepat dari rencana semula demi membuka ruang bagi dialog diplomatik.
Perjalanan Diplomasi AS-Korut
Dinamika hubungan antara AS dan Korea Utara telah melewati perjalanan panjang yang penuh ketegangan geopolitik. Pada periode pertama kepemimpinannya (2017–2021), Donald Trump mengambil pendekatan diplomasi top-level yang tergolong tidak biasa dengan berinteraksi secara langsung bersama Kim Jong Un.
Kedua pemimpin tercatat pernah melangsungkan tiga pertemuan bersejarah:
- KTT Singapura (Juni 2018): Pertemuan puncak pertama dalam sejarah antara presiden AS aktif dan pemimpin Korea Utara, yang menghasilkan kesepakatan umum mengenai komitmen denuklirisasi Semenanjung Korea.
- KTT Hanoi, Vietnam (Februari 2019): Pertemuan kedua yang berakhir tanpa kesepakatan (no-deal) akibat perbedaan pendapat yang tajam mengenai kelanjutan sanksi ekonomi dan tahapan pembongkaran fasilitas nuklir.
- Pertemuan di Zona Demiliterisasi / DMZ (Juni 2019): Pertemuan singkat di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan, di mana Trump mencatatkan sejarah sebagai Presiden AS pertama yang melangkah di wilayah teritorial Korea Utara.
Meskipun diplomasi personal tersebut sempat meredakan retorika perang, perundingan denuklirisasi secara substansial mengalami kebuntuan (stagnasi). Penyelenggaraan latihan militer gabungan AS-Korea Selatan secara rutin serta kelanjutan pengujian rudal balistik oleh Pyongyang senantiasa menjadi isu krusial yang menentukan pasang surut stabilitas keamanan di kawasan Asia Timur.
Ikuti DailyFX.ID
