DailyFX.ID — Upaya Alibaba Group Holding Ltd. untuk memulihkan sentimen pasar pascapenerbitan saham baru senilai US$ 10 miliar belum berhasil mengikis kekhawatiran investor. Langkah penggalangan dana tersebut justru memicu keraguan pasar terkait strategi pembiayaan ambisi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sang raksasa teknologi China.
Pendiri Alibaba, Jack Ma, bersama jajaran eksekutif senior turun tangan dengan membeli saham perusahaan di pasar terbuka demi mengembalikan kepercayaan investor. Namun, upaya tersebut belum mampu memicu pemulihan signifikan pada nilai saham Alibaba yang masih tertahan sekitar 6% di bawah harga sebelum penerbitan saham. Penurunan ini melampaui estimasi dilusi laba sebesar 3% hingga 3,5%.
Respons pasar yang cenderung dingin memperlihatkan keresahan investor terhadap metode pendanaan yang dipilih Alibaba serta ketidakpastian imbal hasil dari investasi besar-besaran di bidang AI. Penerbitan saham yang dilakukan pada akhir pekan melalui skema Regulation S juga membatasi partisipasi investor non-AS, yang berpotensi menyulitkan penjualan kembali saham secara cepat.
Manajer Portofolio Allspring Global Investments Gary Tan menilai aksi buyback kini sudah menjadi hal biasa di industri teknologi China. “Reaksi negatif pasar lebih dipicu oleh cara Alibaba menggalang modal ketimbang aksi penggalangan dana itu sendiri,” jelasnya.
Penjualan saham ini menegaskan komitmen Alibaba untuk terus berinvestasi demi memimpin persaingan AI di China. Melalui pernyataan resminya, manajemen Alibaba menyatakan seluruh dana hasil penerbitan saham akan dialokasikan penuh untuk memperkuat kapabilitas dan infrastruktur AI perusahaan.
Meski demikian, para pemegang saham tetap mempertanyakan efektivitas belanja modal tersebut. Strategis Lombard Odier, Homin Lee, menyebut platform teknologi China menghadapi pengawasan investor yang jauh lebih ketat dibanding raksasa teknologi AS.
Strategi AI di China yang cenderung berorientasi pada margin rendah dan volume tinggi membuat pengembalian investasi (Return on Investment/ROI) menjadi lebih menantang. Raksasa teknologi global saat ini berada dalam perlombaan sengit menguasai teknologi AI yang membutuhkan belanja modal (capex) berbiaya fantastis.
Bagi Alibaba, investasi AI sangat krusial untuk mempertahankan dominasi bisnis komputasi awan (cloud) dan platform e-trading dari ancaman kompetitor domestik seperti Tencent dan Baidu. Namun, di tengah pemulihan ekonomi China yang masih lambat dan ketatnya persaingan harga, para investor global makin skeptis terhadap monetisasi teknologi AI.
Keputusan Alibaba menggalang dana melalui penerbitan saham baru, alih-alih memanfaatkan arus kas internal, memicu kekhawatiran dilusi nilai saham serta menambah tekanan bagi manajemen untuk segera membuktikan profitabilitas dari ambisi AI tersebut.
Ikuti DailyFX.ID
