— Pameran Jakarta International Investment, Trade, Tourism and SMEs Expo (JITEX) 2026 menargetkan pencapaian transaksi sebesar Rp 14 triliun. Angka ini merupakan peningkatan 5-10% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 12,9 triliun. Potensi transaksi tersebut dihimpun dari penjajakan bisnis dan investasi yang dilakukan sebelum dan selama pameran berlangsung.

Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menjelaskan, pihaknya bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta sejumlah kementerian dan lembaga telah melakukan ‘business matching’ di Guangzhou dan Shenzhen, China. Kegiatan ini menghasilkan ketertarikan dari sejumlah perusahaan asing untuk berinvestasi di Jakarta, termasuk dari China, Hong Kong, Singapura, Taiwan, Malaysia, hingga Mongolia.

“Sudah ada potensi beberapa perusahaan milik negara China, Hong Kong, termasuk juga dari Mongolia yang tertarik untuk melakukan investasi di Jakarta,” ujar Budihardjo pada pembukaan JITEX 2026 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Sektor yang diminati investor mencakup industri pengolahan makanan beserta mesin pendukungnya, pergudangan, kawasan industri, pengemasan makanan, hingga proyek perbaikan saluran air. Beberapa calon investor tersebut kini tengah melanjutkan pembicaraan lebih lanjut dengan pemerintah dan pelaku usaha di Indonesia, termasuk penjajakan skema pembiayaan seperti penerbitan obligasi.

“Angkanya kalau dikumpulkan dengan potensi yang di sini beberapa hari, karena juga ada banyak yang datang dari luar negeri, mau bikin pabrik, mau membuat pabrik di sini untuk diekspor, itu nanti kita hitung sekitar Rp 14 triliun,” jelas Budihardjo.

Minat investor asing ini menjadi indikator bahwa Jakarta masih memegang posisi strategis sebagai pusat perdagangan dan pintu masuk aktivitas bisnis internasional. Oleh karena itu, JITEX diarahkan tidak hanya sebagai ajang pertemuan penjual dan pembeli, tetapi juga sebagai peluang investasi dan kerja sama usaha jangka panjang.

Budihardjo menekankan bahwa kemudahan berusaha menjadi faktor krusial untuk mengonversi minat menjadi investasi. Masuknya investor asing yang membangun pabrik di Indonesia akan memberikan manfaat jika mampu menciptakan lapangan kerja dan membangun kemitraan dengan pelaku usaha dalam negeri. “Harapan kami selalu kemudahan berusaha. Jadi kalau kami bisa menciptakan lapangan pekerjaan itu adalah suatu hal yang baik, maupun investasi asing masuk berpartner dengan dalam negeri,” katanya.

Selain menarik investasi, JITEX 2026 juga bertujuan memperkuat belanja lokal. Kehadiran peserta dan pengunjung asing diharapkan memberikan efek berganda bagi sektor perdagangan, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kuliner, hingga perhotelan. Pameran ini menjadi sarana promosi langsung bagi produk-produk lokal, termasuk kuliner yang dinikmati pengunjung asing.

Festival Kekayaan Intelektual Jadi Andalan

Bersamaan dengan JITEX, diselenggarakan pula Festival Kekayaan Intelektual (FKI). Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyatakan, FKI merupakan kegiatan penting untuk mendorong penguatan perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). HKI menjadi modal penting bagi Jakarta untuk membawa karya dan kreativitas warganya ke pasar global.

Rano menjelaskan, transformasi Jakarta sebagai kota global tidak hanya mengandalkan perdagangan dan investasi, tetapi juga ditopang oleh kekayaan intelektual dari 17 subsektor ekonomi kreatif. Ia menambahkan bahwa perlindungan HKI sering diabaikan pelaku kreatif karena anggapan biaya pengurusan yang besar, padahal dampaknya terhadap nilai ekonomi karya sangat signifikan.

Menurut Rano, anggapan tersebut membuat masyarakat enggan mendaftarkan karya mereka, padahal perlindungan HKI penting untuk memastikan karya memiliki nilai ekonomi dan mencegah pemanfaatan tanpa hak. Urgensi perlindungan HKI semakin besar seiring luasnya ruang pengembangan sektor ekonomi kreatif, di mana sebuah karya dapat dikembangkan menjadi berbagai turunan yang menciptakan nilai ekonomi baru.

Penguatan HKI sejalan dengan upaya Pemprov DKI Jakarta meningkatkan daya saing ekonomi melalui JITEX 2026. Acara ini mempertemukan pelaku usaha, investor, pembeli, serta mitra strategis melalui pameran, forum bisnis, dan berbagai pertemuan. Agenda ini tidak hanya menciptakan transaksi, tetapi juga membuka peluang kesepakatan bisnis dan kemitraan baru.

“Ketika berbicara tentang pertumbuhan ekonomi Jakarta, yang kita bawa ke pasar global bukan hanya produk dan investasi. Kita juga memiliki karya, kreativitas, dan kekayaan intelektual,” papar Wagub.

Rano melihat JITEX dan FKI memiliki fungsi saling melengkapi. JITEX membuka akses terhadap investasi, perdagangan, dan pasar global, sementara FKI membawa karya dan kreativitas ke dalam ekosistem ekonomi tersebut. “Kita ingin Jakarta menjadi tempat lahir dan tumbuhnya karya, bertemu pasar dan mendunia,” ujarnya.

Relevansi Kuat dengan Pariwisata

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menilai JITEX memiliki relevansi kuat dengan pengembangan pariwisata. Pariwisata membentuk ekosistem yang menghubungkan transportasi, akomodasi, kuliner, perdagangan, ekonomi kreatif, UMKM, investasi, hingga kebudayaan.

Sinergi empat sektor yang dibawa JITEX—investasi, perdagangan, pariwisata, dan UMKM—dapat menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih luas. “Investor membutuhkan peluang dan ekosistem usaha, sementara pelaku usaha membutuhkan pasar dan UMKM membutuhkan akses kepada buyer maupun distributor,” kata Ni Luh.

Ia berharap JITEX mampu menghasilkan investasi baru, akses pasar, kemitraan, serta kerja sama bisnis yang berkelanjutan. “JITEX ini diharapkan menjadi ruang untuk membangun koneksi, menciptakan transaksi, melahirkan komitmen dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Wamenpar.

Ni Luh menjelaskan, Jakarta memiliki modal kuat sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata karena didukung posisinya sebagai pusat perdagangan, jasa, investasi, ekonomi kreatif, dan konektivitas. “Kolaborasi adalah kunci untuk kita bisa mencapai apa yang menjadi cita-cita pemerintahan ini, yaitu menghadirkan kesejahteraan untuk masyarakat,” kata Wamenpar.

Kementerian Pariwisata melihat peluang pengembangan wisata bisnis, kuliner, belanja, urban, dan budaya di Jakarta. Ibu kota dinilai memiliki posisi strategis sebagai salah satu pintu gerbang utama wisatawan ke Indonesia bersama Bali dan Batam. Ni Luh berharap JITEX 2026 dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun forum internasional yang mempertemukan pemerintah, investor, pembeli, dunia usaha, dan pelaku UMKM.