DailyFX.ID — Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) mencatat adanya peningkatan tajam dalam pelanggaran kedaulatan Lebanon oleh militer Israel. Selama tiga hari terakhir, tercatat sebanyak 152 insiden pelanggaran wilayah udara Lebanon yang dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, mengonfirmasi laporan tersebut dalam taklimat pers resmi di Markas Besar PBB, New York. Ia menyatakan bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB secara konsisten memantau pergerakan dan aktivitas militer harian di sepanjang kawasan perbatasan. “Rekan-rekan penjaga perdamaian kami di Lebanon melalui UNIFIL terus mengamati aktivitas harian Pasukan Pertahanan Israel di wilayah Lebanon. Penjaga perdamaian mencatat 152 pelanggaran wilayah udara Lebanon oleh IDF dalam tiga hari terakhir,” ujar Dujarric pada Jumat.
Selain pelanggaran ruang udara, militer Israel juga dilaporkan melancarkan 24 serangan udara dan delapan kali menerobos perairan teritorial Lebanon. Dujarric menambahkan bahwa pihak Israel juga masih menjatuhkan jeriken berisi bahan peledak di dalam area operasi misi penjaga perdamaian PBB.
Sedikitnya 11 kali ledakan dilaporkan terjadi secara beruntun di sekitar kawasan Al-Mansouri, Lebanon selatan. Insiden lain juga terjadi di wilayah Houla, di mana sebuah pesawat nirawak (drone) tanpa senjata milik Israel jatuh di dekat posisi penjaga perdamaian UNIFIL di sebelah selatan Garis Biru. Tak lama setelah insiden tersebut, beberapa drone Israel lainnya terlihat melintas untuk memantau proses evakuasi unit yang jatuh.
Intensitas serangan harian dan keberadaan militer Israel di wilayah selatan terus memburuknya situasi keamanan, memaksa sebagian besar warga sipil setempat untuk mengungsi dari pemukiman mereka.
Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomasi dan perundingan damai yang belum sepenuhnya membuahkan hasil. Sebelumnya, Lebanon dan Israel telah menandatangani kesepakatan kerangka kerja di Washington, DC pada 26 Juni 2026, yang mengatur gencatan senjata menyeluruh dan pemulihan kendali tentara nasional Lebanon atas kawasan selatan, dengan syarat pelucutan senjata kelompok Hizbullah. Pembicaraan teknis mengenai mekanisme pelaksanaan gencatan senjata kemudian dilanjutkan di Roma pada 6-7 Agustus 2026.
Meskipun kesepakatan kerangka kerja telah disetujui, operasi militer Israel di wilayah selatan Lebanon dilaporkan tetap berlangsung hampir setiap hari. Hal ini secara signifikan menghambat stabilitas kawasan serta menunda proses kembalinya ribuan warga sipil ke tempat tinggal mereka.
Ikuti DailyFX.ID
