— Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia optimistis neraca perdagangan negara ini akan tetap mencatatkan surplus hingga akhir tahun 2026, meskipun dihadapkan pada tantangan kenaikan harga minyak dunia. Faktor lonjakan harga minyak sempat menjadi perhatian karena Indonesia merupakan negara importir.

Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, menyatakan bahwa setelah sempat mengalami defisit pada Mei dan Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia kembali menunjukkan tren positif pada Juli 2026, meskipun surplusnya cenderung tipis. “Kalau mengenai neraca perdagangan, kita melihat kembali lagi bulan lalu sudah mulai positif lagi. Dan saya yakin ke depannya apa juga apa akan terus naik,” ungkap Anindya di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Anindya mengakui bahwa peningkatan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi neraca dagang. Namun, surplus masih dapat terjaga berkat dorongan ekspor produk-produk unggulan Indonesia seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan furniture. Selain itu, ekspor turunan komoditas mineral kritis yang telah diolah, seperti stainless steel dan bahan baku baterai, juga terus digenjot. “Tapi kalau dilihat daripada produk-produk unggulan kita, kenaikannya justru semakin baik dan saya rasa itu karena pemerintah mendorong komoditas ekspor tersebut,” pungkasnya.

Di sisi lain, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengingatkan potensi penyusutan neraca dagang akibat kenaikan harga minyak dunia yang dapat menggerus surplus perdagangan nonmigas. Kenaikan harga minyak sempat terjadi pada periode April-Mei 2026, di mana harga minyak Brent untuk kontrak November ditutup anjlok menjadi 100,34 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober merosot 95,78 dolar AS per barel.

Mendag menekankan pentingnya peningkatan ekspor nonmigas sebagai langkah krusial untuk menjaga kinerja neraca perdagangan. “Harapan kita, yang kita lakukan adalah bagaimana ekspor kita terus meningkat,” ungkap Mendag di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Pemerintah mewanti-wanti agar defisit perdagangan migas tidak terlalu besar sehingga dapat menggerus surplus dari sektor nonmigas. Jika peningkatan surplus nonmigas tidak cukup signifikan, kenaikan defisit migas berpotensi menekan bahkan mengurangi surplus neraca perdagangan secara keseluruhan. Untuk mendorong ekspor, penyelenggaraan Trade Expo Indonesia pada 14-18 Oktober 2026 diharapkan dapat memperluas pasar dan meningkatkan nilai ekspor nasional.

Mendag berharap peningkatan ekspor dapat terus dilakukan agar surplus perdagangan nonmigas mampu menjadi penyangga terhadap tekanan yang berasal dari sektor migas, terutama ketika harga minyak dunia kembali meningkat. “Jangan sampai defisit minyak itu nanti mempengaruhi surplusnya non-migas. Jadi yang migas jangan terlalu besar defisitnya, sehingga surplus ini bisa menutupi,” pungkas Mendag.