— Gejolak geopolitik, perang dagang, perubahan rantai pasok global, lonjakan harga energi, dan percepatan kecerdasan buatan (AI) tengah membentuk ulang lanskap perekonomian dunia. Di tengah ketidakpastian ini, negara berkembang dihadapkan pada pilihan krusial: merangkul keterbukaan global atau melindungi ekonomi domestik. Pengalaman Malaysia menawarkan pelajaran berharga bahwa ketahanan ekonomi tidak selalu berarti isolasi, melainkan dapat dibangun melalui keterbukaan yang dikelola dengan baik, diversifikasi, konsistensi kebijakan, disiplin fiskal, dan kemampuan memanfaatkan guncangan global sebagai peluang investasi.

Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia dalam upayanya mencapai status negara berpendapatan tinggi pada 2045. Meskipun perekonomian Indonesia relatif tangguh, dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 5,0% pada 2026 menurut IMF dan World Bank, mempertahankan angka ini saja tidak cukup untuk melakukan transformasi ekonomi yang sesungguhnya. Tantangan utamanya adalah mengubah ketahanan jangka pendek menjadi pertumbuhan produktivitas jangka panjang.

Pasar domestik Indonesia yang besar, dengan lebih dari 280 juta penduduk, memang menjadi mesin pertumbuhan yang kuat melalui konsumsi rumah tangga. Namun, ketergantungan berlebihan pada pasar domestik dapat menjadi jebakan yang menghambat pencapaian pertumbuhan produktivitas tinggi. Indonesia membutuhkan dorongan dari ekspor, investasi, adopsi teknologi, dan integrasi yang lebih dalam dengan rantai nilai global. Malaysia telah menunjukkan bagaimana diversifikasi ekonomi, dari komoditas menjadi manufaktur, elektronik, semikonduktor, hingga jasa, dapat meningkatkan daya saing.

Indonesia memiliki potensi lebih besar lagi dengan kekayaan sumber daya alam seperti nikel, tembaga, dan bauksit, serta sektor manufaktur dan pasar digital yang berkembang. Kuncinya terletak pada kemampuan mengubah keunggulan sumber daya menjadi keunggulan teknologi dan produktivitas. Hilirisasi harus melampaui pengolahan bahan mentah menjadi pembangunan ekosistem industri yang komprehensif, mencakup riset, desain, engineering, dan pengembangan sumber daya manusia untuk menciptakan nilai tambah maksimal di dalam negeri.

Dalam industri semikonduktor, meskipun belum dapat bersaing langsung dengan pemain utama global, Indonesia dapat memasuki rantai nilai yang realistis seperti desain, perakitan, pengujian, pengemasan, komponen elektronik, hingga aplikasi industri.

Konsistensi Kebijakan sebagai Aset Ekonomi

Investor tidak hanya mencari insentif, tetapi juga kepastian. Modal jangka panjang membutuhkan keyakinan terhadap arah kebijakan pemerintah, regulasi, perpajakan, perdagangan, perizinan, dan perlindungan investasi. Indonesia seringkali mampu merumuskan kebijakan yang baik, namun tantangan terbesarnya adalah memastikan konsistensi dan prediktabilitas kebijakan tersebut. Perubahan kebijakan yang transparan, bertahap, dan berdasarkan aturan yang jelas dapat diterima investor. Ketidakpastianlah yang menjadi masalah.

Dalam menghadapi fragmentasi ekonomi global, konsistensi kebijakan harus menjadi bagian dari strategi daya saing nasional. IMF menekankan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan dan ruang fiskal Indonesia. Reformasi struktural yang meningkatkan produktivitas, memperbaiki iklim usaha, memperkuat perdagangan, dan tata kelola yang baik adalah kunci. Kepastian hukum dan kebijakan bukan sekadar administrasi, melainkan modal ekonomi yang vital.

Disiplin Fiskal dan Kualitas Belanja

Pelajaran penting lainnya dari Malaysia adalah disiplin fiskal. Pemerintah Malaysia berupaya mengurangi defisit melalui reformasi subsidi dan peningkatan penerimaan pajak, sembari melindungi kelompok rentan. Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam membiayai berbagai program esensial seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan perlindungan sosial. Namun, penggunaan ruang fiskal yang berlebihan tanpa memperhatikan efektivitas dan keberlanjutan pembiayaan dapat mengurangi kemampuan respons terhadap krisis di masa depan.

Reformasi fiskal Indonesia seharusnya tidak hanya berfokus pada peningkatan pajak, tetapi yang lebih krusial adalah meningkatkan kualitas belanja negara. Setiap rupiah anggaran harus menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, mulai dari pendidikan yang menghasilkan tenaga terampil, infrastruktur yang menurunkan biaya logistik, subsidi yang tepat sasaran, hingga belanja sosial yang memberdayakan masyarakat. Ruang fiskal yang sehat merupakan bentuk asuransi ekonomi nasional.

AI dan Transformasi Ekonomi

Perkembangan AI merupakan perubahan terbesar yang akan mengubah struktur pekerjaan, industri, dan perdagangan. Pekerjaan administratif dan rutin akan semakin terotomatisasi, namun di sisi lain, akan muncul kebutuhan baru akan tenaga kerja yang mampu menggunakan AI, mengembangkan teknologi, mengelola data, dan menciptakan produk baru. Malaysia telah memilih pusat data dan AI sebagai strategi untuk menarik investasi dan meningkatkan posisi dalam rantai nilai global.

Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar pengguna AI, tetapi harus menjadi bagian dari ekosistem produksinya. Pasar digital yang besar, potensi energi terbarukan, dan lokasi geografis yang strategis dapat menjadi modal pengembangan pusat data, komputasi awan, layanan AI, dan industri digital. Namun, investasi pusat data harus terintegrasi dengan strategi pendidikan, riset, industri digital, dan pengembangan talenta AI agar manfaat ekonomi dapat dimaksimalkan.

Meningkatkan Nilai Tambah dan Kualitas Pekerjaan

Indonesia perlu bergerak lebih ambisius dari sekadar hilirisasi menjadi ‘high-grading the economy’, yaitu terus meningkatkan struktur ekonomi menuju kegiatan dengan produktivitas dan nilai tambah yang lebih tinggi. Transformasi ini membutuhkan ekosistem yang kuat, di mana perguruan tinggi terhubung dengan industri, riset tidak berhenti di laboratorium, pendidikan vokasi selaras dengan kebutuhan perusahaan, dan insentif investasi difokuskan pada penciptaan nilai tambah, transfer teknologi, dan pekerjaan berkualitas.

Memperkuat pasar domestik melalui penciptaan pekerjaan produktif dengan upah yang meningkat adalah kunci. Kelas menengah yang kuat akan menjadi jangkar stabilitas ekonomi, berkontribusi pada penerimaan pajak, investasi, dan konsumsi produk domestik. Oleh karena itu, kebijakan penciptaan lapangan kerja harus menjadi prioritas utama dalam strategi pembangunan.

ASEAN sebagai Strategi Ketahanan Ekonomi

Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, ASEAN dapat menjadi strategi ketahanan ekonomi. Dengan persaingan AS-China yang meningkat dan reorganisasi rantai pasok global, ASEAN memiliki peluang menjadi pusat pertumbuhan baru. Indonesia perlu memainkan peran lebih besar dalam mengintegrasikan perdagangan ASEAN, menghubungkan rantai pasok regional, dan menjadi bagian penting dari jaringan produksi regional. Keterbukaan strategis, bukan ketergantungan pada satu pasar, adalah kunci.

Indonesia perlu memilih jalannya sendiri, dengan mempertimbangkan skala ekonomi, sumber daya alam, demografi, dan posisi geopolitik yang unik. Prinsip-prinsip kunci yang dapat dipelajari adalah diversifikasi, keterbukaan strategis, kebijakan yang konsisten, ruang fiskal yang sehat, sumber daya manusia berkualitas, dan kemampuan adaptasi teknologi.

Kesempatan besar ada di depan mata: investasi global mencari lokasi baru, perusahaan mendiversifikasi rantai pasok, AI menciptakan industri baru, dan transisi energi menciptakan permintaan baru. Namun, peluang ini tidak otomatis menjadi pertumbuhan. Diperlukan institusi yang kredibel, hukum yang konsisten, birokrasi yang efisien, infrastruktur yang kompetitif, dan tenaga kerja yang terampil.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bagi Indonesia bukanlah apakah mampu bertahan menghadapi guncangan, melainkan apakah setiap guncangan global dapat diubah menjadi kesempatan untuk naik kelas. Jawaban dari Malaysia adalah tetap terbuka tetapi tidak naif, terhubung dengan dunia tetapi tidak bergantung, menarik investasi dengan syarat meningkatkan kapasitas domestik, serta menggunakan teknologi tanpa hanya menjadi pengguna.

Strategi yang sama dibutuhkan Indonesia: dalam ketidakpastian global, negara yang paling tangguh adalah yang paling mampu beradaptasi. Kemampuan adaptasi ini harus dimulai sekarang dengan mengubah keterbukaan menjadi kekuatan, investasi menjadi produktivitas, AI menjadi pekerjaan berkualitas, dan sumber daya alam menjadi teknologi serta inovasi. Inilah fondasi ekonomi Indonesia menuju 2045.