— Konflik yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman kembali memicu kekhawatiran akan keamanan jalur pelayaran di Laut Merah. Perkembangan situasi geopolitik ini berpotensi mengganggu salah satu jalur niaga terpenting di dunia, mendongkrak harga minyak mentah internasional, dan membayangi stabilitas perekonomian Indonesia.

Guru Besar Ekonomi Politik Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Faris Al-Fadhat menjelaskan bahwa penguasaan Pelabuhan Mokha oleh kelompok Houthi memperkuat posisi tawar strategis mereka. Lokasi pelabuhan yang berdekatan langsung dengan Selat Bab el-Mandeb menjadi faktor krusial.

“Laut Merah merupakan kawasan yang sangat rawan. Pertikaian antara pemerintah Yaman dan Houthi sudah berlangsung lama, tetapi penguasaan Pelabuhan Mokha meningkatkan perhatian dunia karena nilai strategis pelabuhan ini dari kacamata ekonomi maupun politik,” ujar Faris pada Kamis (17/9/2026).

Ancaman Terhadap Rantai Pasok Energi Global

Jarak Pelabuhan Mokha yang hanya berkisar 75 hingga 80 kilometer dari Selat Bab el-Mandeb menempatkan kelompok Houthi tepat di pinggir koridor utama yang menghubungkan Laut Merah, Teluk Aden, dan Terusan Suez. Koridor ini adalah urat nadi transportasi komersial, khususnya untuk distribusi energi global.

Faris memperingatkan bahwa ancaman keamanan di koridor ini dapat memaksa kapal kargo dan tanker mengalihkan rute pelayaran memutari Benua Afrika. Pengalihan rute ini secara otomatis akan menambah waktu tempuh, membengkakkan konsumsi bahan bakar, serta melonjakkan premi asuransi pengapalan.

“Jika jalur perdagangan minyak terganggu, pasokan dunia pasti ikut terimbas. Indonesia membeli kebutuhan minyak dari pasar internasional, sehingga tersendatnya jalur logistik ini dapat memicu kenaikan harga minyak yang signifikan,” tambahnya.

Dampak Domino Bagi Perekonomian Domestik

Gejolak harga minyak global diprediksi akan merembet ke dalam negeri melalui kenaikan beban impor energi, biaya logistik antardaerah, hingga peningkatan biaya produksi di sektor industri. Imbas akhirnya adalah tekanan inflasi yang meningkatkan harga barang-barang kebutuhan pokok di tingkat konsumen.

Masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Kenaikan biaya transportasi dan bahan bakar akan langsung mengikis daya beli serta menambah beban pengeluaran rumah tangga.

Kondisi ini kembali menyoroti kerentanan Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak bumi. Menurut Faris, ketergantungan pada pasokan energi luar negeri membuat perekonomian nasional sangat peka terhadap dinamika geopolitik global.

Untuk itu, pemerintah didorong segera memperkuat produksi energi domestik, melakukan diversifikasi negara pemasok dan jalur logistik, memupuk cadangan energi nasional, serta aktif dalam upaya diplomasi guna menjaga keamanan jalur perdagangan internasional.

Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu titik penyempitan jalur maritim (_chokepoint_) paling krusial di dunia. Setiap harinya, sekitar 10 persen dari total perdagangan minyak lewat laut global dan 12 persen dari keseluruhan volume perdagangan dunia melintasi selat ini menuju Terusan Suez. Gangguan keamanan pada jalur ini secara otomatis memicu efek domino yang melumpuhkan efisiensi rantai pasok global.

Bagi Indonesia, stabilitas jalur pelayaran internasional dan harga minyak dunia memiliki kaitan erat dengan kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebagai negara yang masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan bahan bakar minyak harian, setiap kenaikan harga minyak mentah dunia akan berdampak langsung pada pembengkakan beban subsidi energi atau penyesuaian harga di dalam negeri. Kondisi ini menegaskan perlunya percepatan transisi energi dan pemenuhan ketahanan pasokan jangka panjang.