DailyFX.ID — Kredibilitas The Federal Reserve (The Fed) sebagai bank sentral Amerika Serikat (AS) dan lembaga keuangan paling berpengaruh di dunia tengah menghadapi ujian berat. Keputusan-keputusan The Fed tidak hanya menentukan arah suku bunga di AS, tetapi juga menjadi acuan utama kebijakan ekonomi global.
Suku bunga di AS dan Eropa telah melonjak tajam hingga menyentuh level tertinggi dalam dua hingga tiga dekade terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh pembengkakan utang publik, terutama di AS. Namun, persoalan mendasar yang kini mengguncang pasar keuangan global adalah hilangnya kepercayaan terhadap disiplin moneter The Fed. Selama lebih dari lima tahun berturut-turut, tingkat inflasi di AS terus membumbung tinggi di atas target resmi The Fed, yaitu sebesar 2%.
Tak hanya masalah ekonomi, independensi The Fed kini berada dalam tekanan politik yang hebat. Serangan politik dari Donald Trump terhadap mantan ketua dewan gubernur The Fed Jerome Powell telah meretakkan tembok independensi bank sentral tersebut. Penggantinya, Kevin Warsh, yang resmi menjabat sejak 22 Mei 2026, kini dinilai publik lebih cenderung melayani kepentingan politik presiden AS ketimbang menjalankan fungsi kebijakan moneter secara independen.
Masa awal kepemimpinan Warsh pun diwarnai kekacauan. Konferensi pers keduanya pada 29 Juli 2026 memicu gejolak hebat di pasar keuangan global, ditandai dengan kenaikan signifikan pada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS jangka panjang. Kini, para pelaku pasar menantikan langkah penentu berikutnya.
“Pidatonya di simposium Jackson Hole (Wyoming, pada 28 Agustus dalam seminar musim panas The Fed) akan menjadi momen yang sangat krusial,” ujar Patrick Krizan selaku pakar kebijakan moneter dari Allianz Investment Management. Krizan menilai keterpurukan kredibilitas The Fed sudah mulai terasa di mata para investor global.
The Fed didirikan pada 1913 dengan mandat utama menjaga kestabilan harga (inflasi) dan memperluas lapangan kerja di AS. Agar dapat mengambil keputusan ekonomi yang objektif tanpa terpengaruh oleh kepentingan politik jangka pendek, The Fed dirancang sebagai lembaga independen.
Sebagai pemegang mata uang cadangan utama dunia (dolar AS), kebijakan suku bunga The Fed memicu reaksi berantai secara global. Kenaikan suku bunga The Fed cenderung menarik investor dari negara berkembang (emerging markets) kembali ke AS, memicu pelemahan mata uang berbagai negara. Selain itu, kenaikan suku bunga AS meningkatkan biaya pinjaman internasional, memberatkan negara-negara yang memiliki utang dalam denominasi Dolar AS.
Jika publik dan pasar kehilangan kepercayaan pada The Fed, misalnya akibat intervensi politik atau ketidakmampuan menekan inflasi, maka ekspektasi inflasi global akan sulit terkendali, meningkatkan risiko gejolak pasar modal, serta mengancam stabilitas ekonomi dunia.
Ikuti DailyFX.ID
