— JAKARTA – Laba bersih PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) menunjukkan tren positif pada semester I-2026, mulai bangkit dan mendekati capaian tahun sebelumnya. Perusahaan yang bergerak di bidang bengkel pesawat ini berhasil meraup laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$10,81 juta. Angka ini tumbuh 23,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat US$8,76 juta, dan mulai mendekati laba semester I-2024 sebesar US$13,25 juta.

Pertumbuhan laba GMFI ini sejalan dengan peningkatan pendapatan usaha yang melonjak 51%, dari US$178,95 juta pada semester I-2025 menjadi US$270,28 juta pada enam bulan pertama tahun ini. Rinciannya, pendapatan dari bisnis reparasi dan turun mesin (overhaul) mengalami lonjakan signifikan sebesar 66%, dari US$132,83 juta pada periode yang berakhir 30 Juni 2025 menjadi US$220,44 juta pada periode yang berakhir 30 Juni 2026. Bisnis perawatan GMFI juga mencatat kenaikan 10,3% menjadi US$38,20 juta dibandingkan US$34,63 juta pada semester I-2025. Sementara itu, bisnis operasi lainnya membukukan kenaikan tipis sebesar 1,3% dari US$11,48 juta menjadi US$11,63 juta.

Pelanggan utama GMFI masih didominasi oleh PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan Citilink. Garuda Indonesia menyumbang pendapatan sebesar US$109,25 juta, meningkat dari US$77,76 juta, sementara Citilink menyumbang US$73,69 juta, naik dari sebelumnya US$39,52 juta. Hal ini menunjukkan ketergantungan yang kuat pada maskapai induk.

GMFI mencatat, pendapatan yang diakui pada titik waktu tertentu, yakni dari transaksi yang selesai secara instan, melonjak sekitar 76% menjadi US$13,02 juta untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026, dibandingkan US$7,39 juta pada periode yang sama tahun 2025. Pendapatan yang diakui bertahap sepanjang waktu, yang umumnya berasal dari kontrak jangka panjang atau jasa berkelanjutan, juga tumbuh sekitar 61% menjadi US$257,27 juta dari sebelumnya US$160,07 juta pada semester I 2025. Hal ini menegaskan bahwa model bisnis GMFI sangat didominasi oleh kontrak jangka panjang.

Paralel dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, beban operasional GMFI juga mengalami kenaikan dari US$15,38 juta menjadi US$27,84 juta. Selama periode Januari-Juni 2026, perseroan juga mencatatkan penghasilan keuangan sebesar US$945 ribu, jauh melampaui perolehan periode sebelumnya. Dari segi ekuitas, GMFI terus mencatatkan ekuitas positif sejak 31 Desember 2024, yang sebelumnya mengalami ekuitas negatif sebesar US$257,90 juta. Hingga semester I-2026, ekuitas GMFI mencapai US$144,62 juta, meningkat dibandingkan US$114,56 juta pada 31 Desember 2025. Liabilitas menyusut menjadi US$681,87 juta ketimbang US$698,41 juta pada semester I-2025.

Suntikan Modal Danantara

Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melalui Danantara Asset Management (DAM) melakukan restrukturisasi kedua kepada Garuda Indonesia Group dengan penyertaan modal US$1,4 miliar atau setara Rp23 triliun pada kuartal IV-2025. Restrukturisasi ini turut berdampak pada GMFI, di mana 37% dari suntikan modal tersebut atau setara Rp8,5 triliun dialokasikan untuk modal kerja dan operasional Garuda, termasuk pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat yang dijalankan oleh GMFI.

Penyertaan modal oleh Danantara kepada Garuda kemudian disalurkan ke GMFI melalui skema rights issue. Dalam skema ini, PT Angkasa Pura Indonesia (API) menginbrengkan aset berupa lahan seluas kurang lebih 972.123 meter persegi senilai Rp5,6 triliun sebagai setoran modal kepada GMFI. Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi, menjelaskan bahwa dana yang terkumpul dari rights issue mayoritas akan digunakan sebagai modal kerja. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk negosiasi dengan supplier guna mendapatkan harga terbaik, serta untuk peremajaan tools dan equipment seiring dengan masuknya pesawat baru. Andi menegaskan bahwa dana ini tidak akan digunakan untuk investasi di Bandara Kertajati maupun ekspansi ke Oman.