— Pemerintah Indonesia menargetkan produksi dan penerapan bahan bakar 20% bioetanol atau E20 dalam kurun waktu dua tahun mendatang. Target ambisius ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, usai menghadiri Rapat Terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta.

“Ratas dipimpin Bapak Presiden langsung, kita membahas agar dua tahun mendatang kita sudah bisa produksi paling kurang E20,” ujar Zulkifli Hasan. Ia menambahkan bahwa hasil kajian pemerintah menunjukkan pencampuran minyak mentah (crude oil) sebesar 80% dengan 20% etanol sangat memungkinkan untuk diimplementasikan dalam tempo dua tahun.

Opsi konversi yang dinilai paling memungkinkan untuk menghasilkan etanol saat ini berasal dari tanaman tebu. Untuk mendukung pencapaian target tersebut, Kementerian Pertanian diminta segera menyiapkan rencana penyediaan lahan tebu seluas 2 juta hektare yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Papua. Sementara itu, pembangunan infrastruktur industrinya akan diserahkan kepada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

“Oleh karena itu tadi Mentan diminta menyiapkan rencana termasuk lahan dan seterusnya. Danantara nanti industrinya ya, mengonversi etanol itu yang paling memungkinkan ternyata dari tebu. Menyiapkan lahannya lebih kurang 2 juta hektare,” jelas Zulkifli.

Zulkifli mengakui bahwa ketersediaan lahan sempat menjadi tantangan utama atau bottleneck dalam program percepatan ini. Meski demikian, pemerintah optimistis kebutuhan lahan dapat terpenuhi demi merespons dinamika global serta memperkuat ketahanan energi nasional. “Memang yang menjadi titik bottleneck adalah lahan. Tapi setelah dibahas tadi, ada dari Kalimantan, ada dari Sumatra, ada dari Jawa, dan ada dari Papua, kita bisa dapatkan 2 juta (hektare). Kalau kita dapatkan 2 juta itu, ya insyaallah nanti E20 ini bisa kita penuhi dalam dua tahun mendatang,” pungkas Zulkifli.

Pencampuran etanol ke dalam bensin bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin. Bahan baku etanol dapat berasal dari berbagai sumber seperti singkong, tebu, jagung, atau tanaman lainnya.

Pemerintah juga menyatakan akan fokus menyiapkan industri pendukung sebelum menerapkan mandatori E20 dalam 1-2 tahun ke depan. Strategi yang akan diadopsi mirip dengan program biodiesel yang dimulai dari B10, B20, B30, B35, B40, hingga kini B50.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah menargetkan penerapan E10, yakni campuran etanol 10% dalam BBM, mulai tahun 2027 sebagai tahap awal sebelum beralih ke E20. Kajian kebijakan mandatori etanol telah dilakukan sejak 2025 dan hampir rampung, menjadi dasar penyusunan peta jalan penerapan E20 yang ditargetkan berlangsung bertahap pada 2028-2029. “Proposal mandatori etanol sudah kita lakukan sejak 2025, kajian kita sudah hampir selesai. E20 itu dalam perencanaan yang kita akan tetapkan sampai 2028-2029,” ujar Bahlil pada 20 Juli 2026 di Kompleks Istana Kepresidenan.