DailyFX.ID — NEW YORK – Co-Founder sekaligus Executive Chairman Oracle, Larry Ellison, membatalkan rencana penjualan hingga 50 juta saham perusahaan yang diperkirakan bernilai sekitar US$7,5 miliar. Nilai tersebut dihitung berdasarkan harga penutupan saham pada Jumat (11/09/2026). Oracle mengonfirmasi bahwa tidak ada satu pun saham yang sempat dijual melalui rencana perdagangan tersebut.
Dalam pernyataannya pada Sabtu (12/09/2026), Oracle menegaskan, “Tidak ada saham Oracle yang dijual berdasarkan rencana tersebut, dan dia tidak memiliki rencana lain untuk menjual saham Oracle miliknya.” Pernyataan ini dikutip dari Reuters.
Rencana perdagangan saham ini awalnya diadopsi oleh Ellison pada 22 Juni 2026 dan dijadwalkan berlaku hingga 24 Oktober 2026. Oracle tidak merinci alasan di balik keputusan pembatalan ini. Keputusan ini diambil ketika saham Oracle masih berada di bawah tekanan pasar.
Sepanjang tahun berjalan, harga saham Oracle telah mengalami penurunan hampir 23%. Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor mengenai lonjakan belanja modal perusahaan yang berdampak pada arus kas bebas. Saham Oracle juga tercatat lebih dari 18% di bawah level penutupan pada 18 Juni, yang merupakan hari perdagangan terakhir sebelum Ellison mengadopsi rencana penjualan saham tersebut.
Ellison, yang kini berusia 82 tahun, merupakan pemegang saham terbesar di Oracle dengan kepemilikan lebih dari 38% berdasarkan data LSEG. Ia sebelumnya menjabat sebagai CEO Oracle hingga tahun 2014.
Pada awal pekan, Oracle sempat melaporkan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi Wall Street, disertai dengan pembakaran kas yang lebih rendah dari perkiraan. Hasil ini sempat meredakan kekhawatiran investor terhadap ekspansi belanja perusahaan yang dibiayai oleh utang, dan sempat mendorong saham Oracle untuk naik pada hari Jumat.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Sejumlah analis berpendapat bahwa pemulihan arus kas Oracle masih membutuhkan waktu. Selain itu, perusahaan juga mengumumkan bahwa biaya restrukturisasi, termasuk yang berkaitan dengan pemutusan hubungan kerja, diperkirakan akan meningkat sekitar US$700 juta.
Ikuti DailyFX.ID
