— Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melakukan perubahan signifikan terkait batas minimum harga saham di pasar reguler dan pasar tunai. Mulai 28 September 2026, batas minimum harga saham yang sebelumnya Rp 50 akan diturunkan menjadi Rp 1 per saham. Perubahan ini diumumkan oleh RHB Sekuritas kepada nasabahnya pada Sabtu, 19 September 2026.

Penyesuaian ini akan memengaruhi parameter dalam sistem perdagangan JATS, termasuk parameter auto rejection atas (ARA) dan auto rejection bawah (ARB). RHB Sekuritas mengimbau nasabah untuk memperhatikan ketentuan batas harga dan mekanisme auto rejection saat melakukan transaksi saham.

Langkah BEI ini sejalan dengan pernyataan Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, kepada Bloomberg pada Selasa, 15 September 2026. Menurutnya, penghapusan batas minimum harga saham Rp 50 bertujuan memberikan kesempatan bagi saham-saham di harga tersebut untuk ditransaksikan dengan rentang harga yang lebih luas.

Selain itu, BEI juga berencana mengubah klasifikasi batasan auto rejection. Untuk auto rejection bawah (ARB), batasannya adalah Rp 1 untuk saham Rp 1-10, 15% untuk saham Rp 11-200 dan Rp 201-5.000, serta 15% untuk saham di atas Rp 5.000. Sementara itu, untuk auto rejection atas (ARA), batasannya adalah Rp 1 untuk saham Rp 1-10, 35% untuk saham Rp 11-200, 25% untuk saham Rp 201-5.000, dan 20% untuk saham di atas Rp 5.000.

Perubahan aturan ini sangat dinantikan oleh pelaku pasar, khususnya terkait saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Saham GOTO saat ini banyak tertahan di level Rp 50, dengan antrean jual yang membeludak. Hingga penutupan perdagangan Jumat, 18 September 2026, antrean GOTO di level Rp 50 mencapai 355.942.113 lot saham, atau bernilai sekitar Rp 1,77 triliun.

Analis MNC Sekuritas, Christian, menilai bahwa penghapusan batas minimum Rp 50 akan menciptakan dinamika baru bagi saham GOTO. Ia memprediksi harga saham GOTO berpotensi bergerak di bawah Rp 50 dalam jangka pendek. Namun, hal ini justru dapat mengurangi hambatan perdagangan yang selama ini terjadi.

“Kalau aturan harga terendah diubah, ekspektasinya harga saham GOTO turun ke bawah Rp 50. Ini ada sisi positifnya karena penjual bisa bertemu pembeli di harga tertentu. Kontras dengan kondisi di Rp 50 ketika antrean jual lebih banyak dari beli sehingga transaksi tidak matched,” kata Christian.

Menurutnya, penurunan harga pada tahap awal mungkin akan menimbulkan ‘short-term pain’ bagi investor. Namun, dalam jangka panjang, mekanisme pembentukan harga yang lebih fleksibel berpotensi meningkatkan likuiditas perdagangan. Dengan tidak adanya lagi batas bawah Rp 50, saham GOTO dapat bergerak mengikuti keseimbangan permintaan dan penawaran, membuka peluang terjadinya ‘price discovery’ dan ruang bagi pemulihan harga jika fundamental perusahaan semakin kuat.

Christian menambahkan, salah satu persoalan utama yang membebani GOTO saat ini bukan semata-mata fundamental, melainkan ‘technical overhang’ setelah saham tersebut dikeluarkan dari sejumlah indeks global seperti FTSE dan MSCI. Eksklusi ini mengharuskan ‘passive fund’ yang mengikuti indeks tersebut melakukan penyesuaian portofolio, namun proses tersebut terhambat ketika harga saham tertahan di Rp 50.

“Dengan kondisi harga saham saat ini di Rp 50 memang ada technical overhang, di mana passive fund yang harus keluar dari saham GOTO karena eksklusi FTSE dan MSCI, tetapi mereka tertahan,” ujarnya.

Dengan adanya perubahan mekanisme harga, Christian berharap proses ‘rebalancing’ oleh investor institusi dapat berlangsung lebih normal. “Dengan aturan baru, memungkinkan mereka bisa rebalancing, sehingga harapannya tidak ada lagi masalah overhang seperti ini,” imbuhnya.

Oleh karena itu, tekanan harga GOTO di bawah Rp 50 tidak serta-merta dapat diartikan sebagai memburuknya fundamental. Sebagian tekanan awal berpotensi berasal dari faktor teknikal dan proses penyesuaian kepemilikan investor. Setelah tekanan tersebut mereda, arah saham akan lebih ditentukan oleh kemampuan GOTO mempertahankan pertumbuhan bisnis dan profitabilitasnya.

Di tengah tekanan teknikal dan ketidakpastian regulasi, kinerja keuangan GOTO justru menunjukkan perubahan positif. Sepanjang Januari-Juni 2026, GOTO membukukan laba bersih Rp 608 miliar. Pencapaian ini menandai pertama kalinya perseroan mencatatkan laba bersih pada tingkat semesteran, setelah sebelumnya masih membukukan rugi Rp 580 miliar pada semester I-2025.