DailyFX.ID — JAKARTA – Industri pengolahan atau manufaktur tercatat sebagai sektor yang paling banyak menyerap kredit perbankan hingga Juli 2026. Nilai kredit yang disalurkan ke sektor ini mencapai Rp 1.408,2 triliun, menunjukkan pertumbuhan sebesar 17,3% secara tahunan atau year on year (yoy).
Dalam setahun terakhir, sektor manufaktur berhasil menyerap tambahan kredit sebesar Rp 207,3 triliun. Jumlah ini setara dengan seperlima dari total kenaikan kredit perbankan nasional yang mencapai Rp 1.032,4 triliun dalam periode yang sama. Berdasarkan data uang beredar (M2) dari Bank Indonesia (BI), total kredit perbankan secara keseluruhan hingga Juli 2026 mencapai Rp 8.970,2 triliun, dengan pertumbuhan 13,0% yoy.
Analisis lebih lanjut mengenai kredit manufaktur menunjukkan bahwa penambahan dalam setahun terakhir terbagi atas kredit investasi sebesar Rp 96,8 triliun dan kredit modal kerja sebesar Rp 110,5 triliun. Keseimbangan ini mengindikasikan bahwa kebutuhan pembiayaan di sektor manufaktur relatif merata antara pendanaan untuk investasi dan operasional.
Secara umum, kredit investasi menjadi kontributor utama pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan. Kredit jenis ini mencapai Rp 2.733,3 triliun, tumbuh 23,1% yoy, dengan penambahan nilai Rp 512,7 triliun dalam setahun terakhir. Kontribusi ini mencapai 49,7% dari total penambahan kredit perbankan.
Sementara itu, kredit modal kerja mencatat angka Rp 3.833,8 triliun, tumbuh 11,6% yoy. Penambahan kredit modal kerja dalam setahun terakhir sebesar Rp 398,7 triliun, berkontribusi sebesar 38,6% terhadap kenaikan total kredit perbankan.
Kredit konsumsi berada di posisi ketiga dengan nilai Rp 2.403,0 triliun, tumbuh 5,3% yoy. Pertumbuhan nilai kredit konsumsi dalam setahun terakhir adalah Rp 120,9 triliun, dengan kontribusi 11,7% terhadap lonjakan total kredit perbankan.
Komposisi pertumbuhan kredit ini menggarisbawahi tren peningkatan dukungan pembiayaan investasi, yang cenderung berjangka menengah hingga panjang. Di sisi lain, pertumbuhan positif kredit modal kerja mencerminkan keberlanjutan kebutuhan pembiayaan untuk operasional dan siklus produksi.
Sektor lain yang juga menunjukkan lonjakan kredit signifikan adalah konstruksi. Kredit ke sektor ini mencapai Rp 596,3 triliun, melonjak 48,0% yoy. Penambahan kredit konstruksi dalam setahun terakhir mencapai Rp 193,5 triliun, yang terdiri dari kenaikan kredit investasi Rp 127,9 triliun dan kredit modal kerja Rp 65,6 triliun.
Secara agregat, tambahan kredit dari sektor manufaktur dan konstruksi mencapai Rp 400,8 triliun dalam setahun terakhir. Kedua sektor ini menjadi pilar utama penyokong pertumbuhan penyaluran kredit perbankan, terutama melalui skema pembiayaan investasi dan modal kerja.
Berikut adalah sebaran kredit perbankan berdasarkan sektoral per Juli 2026:
- Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan: Rp 600,0 triliun (+4,7% yoy)
- Pertambangan dan Penggalian: Rp 412,3 triliun (+12,2% yoy)
- Industri Pengolahan: Rp 1.408,2 triliun (+17,3% yoy)
- Listrik, Gas, dan Air Bersih: Rp 300,5 triliun (+39,6% yoy)
- Konstruksi: Rp 596,3 triliun (+48,0% yoy)
- Perdagangan, Hotel, dan Restoran: Rp 1.433,0 triliun (+5,7% yoy)
- Pengangkutan dan Komunikasi: Rp 589,3 triliun (+16,6% yoy)
- Keuangan, Real Estat, dan Jasa Perusahaan: Rp 876,2 triliun (+13,3% yoy)
- Jasa-jasa: Rp 351,2 triliun (+34,0% yoy)
Ikuti DailyFX.ID
