— Indeks saham Wall Street menunjukkan pergerakan yang dinamis pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Indeks Nasdaq Composite berhasil mencapai rekor penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH), sementara S&P 500 bergerak nyaris datar dan Dow Jones Industrial Average mengalami pelemahan.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah justru melanjutkan tren pelemahan untuk hari kelima berturut-turut. Penurunan ini terjadi di tengah meredanya kekhawatiran mengenai pasokan minyak global akibat perkembangan terbaru dalam hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Nasdaq Composite mengakhiri sesi perdagangan dengan kenaikan 0,45%, mencapai level 27.244,28. Penguatan ini sebagian besar didorong oleh lonjakan saham Sandisk yang melonjak hampir 7% setelah menerima rekomendasi positif dari Rosenblatt. Di sisi lain, S&P 500 hanya turun tipis 0,06 poin atau kurang dari 0,1%, ditutup pada 7.764,64. Dow Jones Industrial Average melemah 185,14 poin atau 0,36%, berakhir di 51.863,69.

Pergerakan di Wall Street ini terjadi seiring investor yang terus mencermati perkembangan hubungan antara AS dan Iran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan adanya pertemuan yang sangat baik dengan delegasi Iran memberikan sentimen positif terhadap pasar. Trump menyatakan bahwa pertemuan tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga jam.

Dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Trump juga mengindikasikan bahwa AS masih perlu mengambil “keputusan besar” terkait kelanjutan kesepakatan nuklir dengan Iran.

Perkembangan ini secara langsung mempengaruhi harga minyak. Harga minyak mentah Brent turun 1,09% menjadi US$99,25 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,24% ke level US$94,59 per barel. Penurunan ini menandai pelemahan kelima berturut-turut untuk kedua acuan harga minyak tersebut.

Sebelumnya, harga minyak juga sempat tertekan oleh laporan yang menyebutkan Iran menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari, meskipun laporan tersebut belum diverifikasi secara independen. Selain itu, rencana Arab Saudi untuk mengaktifkan kembali East-West Pipeline pada pekan ini juga turut menekan harga energi global.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi AS atau US Treasury juga terpantau sedikit lebih rendah. Namun, investor tetap mengamati potensi kenaikan yield di tengah meningkatnya utang negara, harga energi, dan inflasi yang masih tinggi. Yield obligasi AS tenor 10 tahun tercatat berada di level 4,959%.

“Pasar belum sepenuhnya memahami apa arti siklus kenaikan suku bunga, bahkan dalam lingkungan yield yang lebih tinggi,” ujar Tom Garretson, Senior Portfolio Strategist Fixed Income Strategies RBC Wealth Management. Menurutnya, pasar masih memiliki tingkat kenyamanan yang cukup tinggi terhadap kemungkinan yield obligasi AS 10 tahun menembus 5%. Ia juga memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya dua kali lagi, dengan potensi kembali ke level 5% pada awal 2027.

Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan di Washington, DC. Kecerdasan buatan (AI), isu perang Iran, tarif perdagangan, dan logam tanah jarang diprediksi akan menjadi topik utama dalam pertemuan tersebut. Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menjelang kunjungan Xi ke AS.