DailyFX.ID — JAKARTA – Pasar otomotif nasional mulai menunjukkan tren positif, namun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat untuk tidak sekadar mengikuti tren atau terpengaruh fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dalam membeli mobil.
Sepanjang semester I-2026, penjualan mobil domestik mencapai 436.564 unit, meningkat 15,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan membaiknya aktivitas industri otomotif, didukung oleh kemudahan akses pembiayaan kendaraan.
OJK menekankan bahwa kemudahan pembiayaan harus diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang baik. Keputusan pembelian mobil harus didasarkan pada kebutuhan dan kemampuan finansial, bukan hanya karena godaan promosi atau ikut-ikutan tren.
Peringatan ini disampaikan OJK dalam talk show yang digelar PT Toyota Astra Financial Services (TAF) bersama Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK di GIIAS 2026. Perwakilan OJK, Enriche Putera Hutama, menyarankan masyarakat menerapkan prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis, saat menggunakan produk atau layanan keuangan.
Prinsip Legal berarti memastikan perusahaan atau produk keuangan berizin dari otoritas berwenang. Sementara Prinsip Logis berarti tidak mudah percaya pada penawaran yang menjanjikan keuntungan terlalu besar atau tanpa risiko. Prinsip ini penting tidak hanya untuk investasi, tetapi juga untuk pembiayaan konsumtif seperti pembelian kendaraan.
Di tengah pameran otomotif yang menawarkan beragam pilihan, diskon, dan skema pembiayaan, konsumen rentan mengambil keputusan spontan. Enriche mengingatkan agar masyarakat tidak tergiur promosi atau pengaruh media sosial, serta menghindari perilaku seperti FOMO, Fopo (Fear of Other People’s Opinion), Yolo (You Only Live Once), dan doom spending.
Perilaku FOMO mendorong pembelian karena takut ketinggalan tren, Fopo karena ingin mendapat pengakuan orang lain, Yolo mengutamakan kesenangan saat ini, sementara doom spending adalah belanja berlebihan akibat stres atau pesimisme. Perilaku-perilaku ini dapat mendorong konsumen mengambil pembiayaan di luar kemampuan finansial.
Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan untuk menentukan prioritas kebutuhan, menghitung kemampuan membayar cicilan, dan menjaga dana darurat sebelum mengambil kredit kendaraan. Pengelolaan keuangan yang sehat penting untuk memastikan ketersediaan dana darurat, menghindari utang konsumtif, dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Literasi Keuangan Masih Jadi Tantangan
Meskipun akses terhadap produk dan layanan keuangan terus berkembang, peningkatan literasi keuangan masih menjadi pekerjaan rumah penting. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46%, sementara indeks inklusi keuangan 80,51%.
Data ini menunjukkan kesenjangan antara akses dan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan. OJK terus mendorong edukasi keuangan agar masyarakat tidak hanya memiliki akses, tetapi juga memahami produk, biaya, kewajiban, dan risikonya.
Kondisi ini semakin relevan seiring pertumbuhan aktivitas pembiayaan kendaraan. Pada Juni 2026, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan mencapai Rp511,26 triliun, tumbuh 1,88% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ini perlu diimbangi pemahaman konsumen agar tidak berujung pada tekanan keuangan.
Direktur TAF, Ezar Kumendong, menyatakan literasi keuangan adalah fondasi pembiayaan yang sehat. Nasabah yang memahami produk dan kondisi finansialnya akan membuat keputusan yang lebih baik, yang pada akhirnya menciptakan kualitas portofolio yang berkelanjutan bagi industri.
PT Toyota Astra Financial Services (TAF) memanfaatkan GIIAS 2026 untuk tidak hanya memperluas akses pembiayaan, tetapi juga meningkatkan pemahaman konsumen mengenai pengelolaan keuangan. Langkah ini sejalan dengan dukungan terhadap Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) yang dicanangkan OJK.
Program GENCARKAN menargetkan indeks inklusi keuangan nasional mencapai 98% pada 2045. Sepanjang 2025, program ini telah menjangkau 4,56 juta peserta melalui 37.203 kegiatan edukasi dan didukung oleh jutaan konten digital.
Dengan penjualan kendaraan yang tumbuh dan industri pembiayaan yang ekspansif, literasi keuangan menjadi kunci. Pertumbuhan pasar otomotif harus didorong oleh kemudahan kredit sekaligus pemahaman konsumen. Keputusan pembelian kendaraan harus didasarkan pada kebutuhan, kemampuan membayar, dan perencanaan keuangan jangka panjang untuk memastikan pasar otomotif pulih secara sehat dan berkelanjutan, tanpa menjebak konsumen dalam keputusan konsumtif akibat FOMO.
Ikuti DailyFX.ID
