DailyFX.ID — WASHINGTON – Presiden The Federal Reserve (The Fed) Minneapolis Neel Kashkari menyatakan bahwa tekanan inflasi di Amerika Serikat (AS) masih berada pada tingkat yang terlalu tinggi dan telah menyebar ke hampir seluruh sektor ekonomi. Ia menilai lonjakan harga minyak mentah akibat eskalasi militer di Timur Tengah bukanlah satu-satunya penyebab.
“Sekalipun kita mengesampingkan komponen energi yang sangat volatil serta sektor pangan, meskipun keduanya penting, inflasi secara keseluruhan tetap terlalu tinggi bagi arah perekonomian saat ini,” ujar Kashkari seperti dikutip Fox News, Senin (21/9/2026).
Sinyal Kenaikan Suku Bunga dan Ekspektasi Pasar
Kashkari mendukung keputusan bulat The Fed pekan lalu untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke rentang 3,75% hingga 4,00%. Sebelumnya, ia merupakan salah satu dari tiga pejabat yang menyampaikan pandangan berbeda (dissent) pada pertemuan mendahului keputusan tersebut demi mendorong kenaikan suku bunga.
Proyeksi terbaru yang dirilis bersamaan dengan penetapan suku bunga menunjukkan hampir seluruh regulator The Fed memperkirakan setidaknya masih akan ada satu kali lagi kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin atau 25 bps tahun ini. Pasar berjangka suku bunga mengindikasikan peluang dua banding tiga bahwa suku bunga acuan The Fed akan mengakhiri tahun 2026 pada kisaran 4,00% hingga 4,25%, dengan potensi kenaikan lanjutan pada pertengahan 2027.
Kekhawatiran senada turut disampaikan oleh Ketua Dewan Gubernur The Fed Kevin Warsh. Ia mengestimasi, indikator inflasi acuan Bank Sentral AS kemungkinan mencapai sekitar 3,6% pada Agustus 2026, saat sebagian besar kategori barang dan jasa masih mencatatkan kenaikan di atas target 3%.
Lonjakan Minyak Dunia dan Ketahanan Ekonomi AS
Pasar komoditas global sempat bergejolak setelah konflik di Timur Tengah meluas. Ketegangan meningkat menyusul aksi saling serang antara militer AS dan Iran yang menenggelamkan sejumlah kapal tanker di Selat Hormuz, serta penutupan pipa minyak vital timur-barat oleh Arab Saudi akibat serangan udara.
Meski demikian, Kashkari menekankan bahwa kebijakan suku bunga tidak dapat memulihkan gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz atau menurunkan harga minyak secara langsung. Sektor jasa domestik tercatat mengalami tekanan kenaikan harga yang cukup merata, yang memerlukan instrumen moneter untuk menekan kembali tingkat inflasi menuju target 2%.
Di sisi lain, perekonomian AS dinilai menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tekanan perang dagang, tarif impor, hingga konflik geopolitik di Ukraina dan Iran. Pertumbuhan ekonomi tetap berjalan stabil didukung oleh perbaikan produktivitas, yang diharapkan dapat mempercepat proses disinflasi tanpa mengganggu stabilitas pasar tenaga kerja.
Kebijakan The Fed dalam mengendalikan inflasi kini berhadapan dengan dinamika stagflasi global, yakni kombinasi antara risiko perlambatan ekonomi dan tekanan harga barang yang tinggi. Konflik terbuka di kawasan Teluk dan Selat Hormuz mengganggu jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi ini secara langsung meningkatkan biaya logistik global dan memicu inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation).
Di luar sektor energi, tingkat inflasi di sektor jasa domestik AS terbukti sulit turun (sticky). Hal ini dipengaruhi oleh dinamika pasar tenaga kerja serta tingkat permintaan konsumen yang masih solid. Kenaikan suku bunga acuan terus dilakukan untuk mencegah ekspektasi inflasi jangka panjang melenceng dari target batas aman 2%.
Ikuti DailyFX.ID
