DailyFX.ID — Ratusan siswa SDN 03 Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan, mengikuti rangkaian pemeriksaan kesehatan pada Kamis (20/8/2026). Sebagian siswa antre di ruang kelas yang telah disiapkan menjadi lokasi pemeriksaan, sementara sebagian lainnya mengikuti aktivitas fisik di lapangan sekolah. Sebanyak 12 petugas dari Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama hadir untuk memberikan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah.
Program CKG Sekolah ini bertujuan untuk mendeteksi kondisi kesehatan siswa sejak dini, meliputi status gizi, penglihatan, pendengaran, kesehatan gigi dan mulut, hingga kebugaran jasmani. Masa sekolah merupakan periode krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga perhatian terhadap kesehatan sama pentingnya dengan pendidikan.
Muhammad Fabiansyah, siswa kelas 5A SDN 03 Kebayoran Lama Selatan, mengaku senang setelah menjalani pemeriksaan yang dianggapnya lengkap. “Alhamdulillah saya sehat,” ujar siswa berusia 10 tahun tersebut, yang juga mengikuti aktivitas fisik di lapangan sekolah.
Pola pelayanan kesehatan dengan mendatangi langsung lokasi aktivitas anak menjadi kekuatan CKG Sekolah. Metode “jemput bola” ini mempermudah akses pemeriksaan dan menjangkau peserta didik dalam jumlah besar secara efektif. Di SDN 03 Kebayoran Lama Selatan sendiri, terdapat 415 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, sehingga pelayanan di sekolah memastikan seluruh siswa mendapatkan kesempatan yang sama.
Yenny Emmy Susanty, Kepala SDN 03 Kebayoran Lama Selatan, menyatakan dukungan penuh sekolah terhadap program CKG. Ia menekankan pentingnya mengetahui kondisi kesehatan setiap anak untuk menyesuaikan proses pembelajaran dan aktivitas sekolah. “Alhamdulillah, kami sangat mendukung program ini,” katanya.
Yenny menjelaskan bahwa mekanisme CKG sebelumnya mengharuskan orang tua membawa anak ke puskesmas, namun hal ini terkadang terkendala waktu dan kemampuan orang tua dalam menggunakan teknologi untuk pendaftaran. “Kalau tahun lalu jumlah anak yang mengikuti CKG ke Puskesmas masih sedikit, mungkin salah satu kendalanya adalah waktu. Selain itu, kemampuan orang tua dalam menggunakan teknologi juga berbeda-beda,” ungkapnya.
Dengan adanya petugas puskesmas yang datang langsung ke sekolah, hambatan tersebut dapat diminimalkan. “Dengan adanya petugas yang datang langsung dan mendampingi pelaksanaan di sekolah, tentu dampaknya lebih besar karena seluruh anak kami dapat mengikuti pemeriksaan,” ujar Yenny. Ia menambahkan bahwa rekam kesehatan anak yang jelas memungkinkan sekolah menyesuaikan kegiatan yang diberikan, terutama dalam aktivitas fisik seperti olahraga.
Yenny berharap CKG dapat dilakukan secara rutin dengan sistem jemput bola yang terus dipertahankan karena sangat membantu sekolah, anak-anak, dan orang tua dalam memastikan kondisi kesehatan. Sekolah juga rutin menyelenggarakan edukasi kesehatan sebulan sekali dan bekerja sama dengan puskesmas serta perguruan tinggi untuk pemeriksaan mata, gigi, dan kesehatan umum.
Jemput Bola untuk Kesehatan Masyarakat
Pelaksanaan CKG di SDN 03 Kebayoran Lama Selatan merupakan bagian dari agenda pelayanan kesehatan bergiliran di sekolah-sekolah wilayah Kecamatan Kebayoran Lama. Tio Rena, petugas Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama, menjelaskan bahwa 415 siswa menjadi sasaran pemeriksaan di sekolah tersebut, yang dimulai sekitar pukul 08.30 WIB setelah persiapan lokasi dan perangkat.
Sekolah-sekolah di wilayah Kecamatan Kebayoran Lama dijadwalkan secara bergilir, dengan sebelumnya petugas melayani di sekolah wilayah Grogol Utara. Setelah SDN 03 Kebayoran Lama Selatan, pelayanan akan berlanjut ke sekolah lain sesuai jadwal yang telah disusun. Program ini mencakup peserta didik SMP dan SMA, dan dijadwalkan berlangsung hingga November.
Petugas puskesmas berkoordinasi dengan kepala sekolah dan unsur terkait di tingkat kecamatan melalui mekanisme Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Pemeriksaan dilakukan bertahap, dimulai dari pendaftaran, pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan pendengaran, penglihatan, telinga, gigi, tenggorokan, dan kulit. Jika ditemukan keluhan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, seperti batuk lebih dari dua minggu yang berpotensi tuberkulosis, anak akan dirujuk.
CKG berfungsi sebagai pintu masuk untuk mengetahui kondisi kesehatan peserta didik. Sistem yang digunakan adalah rujukan apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut, bukan pengobatan langsung di lokasi untuk semua temuan. Selain pemeriksaan kesehatan dasar, siswa juga mengikuti tes kebugaran jasmani untuk melihat kemampuan dan tingkat kebugaran saat beraktivitas fisik.
Data hasil pemeriksaan akan diinput ke sistem Satu Sehat dan dikirimkan ke masing-masing orang tua siswa. “Data akan diinput ke Satu Sehat dan dikirimkan ke masing-masing orangtua siswa,” ungkapnya. Pemantauan kesehatan anak secara berkelanjutan menjadi penting, dan hasil pemeriksaan menjadi informasi awal bagi orang tua, sekolah, dan tenaga kesehatan.
Pendekatan jemput bola juga diterapkan untuk pelayanan CKG masyarakat, termasuk kalangan lanjut usia (lansia). Dokter Gita Novita Sari dari Puskesmas Kebayoran Lama menjelaskan bahwa tingkat kunjungan masyarakat ke puskesmas masih dipengaruhi pemahaman mengenai program CKG. Anggapan bahwa CKG hanya bisa dilakukan saat ulang tahun perlu diluruskan, karena masyarakat dapat melakukannya kapan saja.
Untuk mengatasi kesibukan dan keterbatasan masyarakat mendatangi puskesmas, pelayanan jemput bola diperkuat dengan turun langsung ke lingkungan masyarakat maupun sekolah sesuai jadwal. “Karena antusiasmenya masih sedikit, kami turun langsung ke masyarakat,” katanya. Pelayanan masyarakat juga diintegrasikan dengan skrining tuberkulosis, dan dilakukan Senin hingga Jumat di lokasi yang berpindah sesuai jadwal.
Model pelayanan ini menunjukkan keberhasilan program kesehatan bergantung pada kemampuan menjangkau sasaran. Dengan mendatangi lingkungan warga, tenaga kesehatan membawa pelayanan lebih dekat. Untuk pelayanan masyarakat, targetnya sekitar 100 orang setiap hari, sementara CKG di sekolah dapat menjangkau ratusan anak dalam satu kegiatan.
Ketika ditemukan masalah kesehatan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, pasien akan diarahkan ke fasilitas kesehatan yang sesuai. CKG menjadi pintu masuk dari rangkaian pelayanan kesehatan yang lebih panjang: menemukan, memastikan, menangani, dan memantau.
Cakupan Nasional CKG
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyebutkan cakupan program CKG secara nasional telah mencapai 81,4 juta jiwa dan diperkirakan menembus 82 juta jiwa pada hari pemeriksaan. “Setiap hari minimal 600.000 orang CKG di seluruh Indonesia,” kata Benjamin di Tangerang, Banten, Kamis (20/8/2026).
Pemerintah menargetkan cakupan CKG mencapai 130 juta orang sepanjang 2026, sekitar 46 persen dari total penduduk Indonesia. CKG dirancang sebagai program pemeriksaan kesehatan skala besar untuk menemukan faktor risiko atau penyakit sedini mungkin, bukan hanya saat gejala muncul.
Salah satu temuan penting dari CKG adalah penyakit tidak menular, terutama diabetes melitus dan hipertensi, yang sering berkembang tanpa gejala jelas di tahap awal. “Temuan kasus diabetes melitus dan hipertensi dari program CKG menjadi salah satu alasan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala,” ujar Benjamin.
Masyarakat yang terdeteksi menderita hipertensi atau diabetes akan mendapatkan penanganan sesuai kondisi. Pasien dapat diarahkan ke puskesmas untuk pengobatan, dan jika puskesmas mengalami kesulitan, dapat dirujuk ke rumah sakit. “Begitu ditemukan hipertensi atau diabetes, dikasih obat dan langsung diarahkan ke puskesmas untuk selanjutnya pengobatan. Jika puskesmas mengalami kesulitan, bisa dilanjutkan dirujuk ke rumah sakit,” kata Benjamin.
Ikuti DailyFX.ID
