— Pemerintah Indonesia tengah berupaya keras untuk mencapai swasembada bawang putih nasional dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk bawang putih konde basah sebesar Rp12.000 per kilogram. Usulan ini datang dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan).

Direktur Perbenihan Hortikultura Ditjen Hortikultura Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menyatakan optimisme terhadap potensi lahan yang tersedia untuk pengembangan bawang putih. Ia memaparkan bahwa strategi pemerintah mencakup seluruh rantai pasok dari hulu hingga hilir. Di sektor hulu, fokus diberikan pada riset untuk peningkatan produktivitas, termasuk ukuran umbi, percepatan dormansi, dan penerapan teknologi budidaya yang menghasilkan produktivitas tinggi. Sementara di sektor hilir, upaya promosi, perluasan akses pasar, serta pembangunan kemitraan menjadi prioritas.

“Saat ini, kami juga telah mengusulkan penerbitan regulasi HPP bawang putih konde basah Rp12 ribu per kg dan Harga Acuan Pemerintah (HAP) konde benih kering Rp46 ribu per kg,” ujar Agung.

Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih pada tahun 1995 dengan produksi mencapai 152.421 ton. Namun, angka produksi terus menurun hingga hanya 39.438 ton pada tahun 2023. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai importir bawang putih terbesar di dunia, dengan impor mencapai 602.745 ton pada tahun 2019 dan 555.886 ton pada tahun 2024.

Dengan potensi sentra produksi bawang putih di Temanggung (Jawa Tengah), Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), dan Enrekang (Sulawesi Selatan) yang pernah berkontribusi pada swasembada, pemerintah kini memprioritaskan pengembangan komoditas ini di dalam negeri. Bawang putih pun dimasukkan sebagai komoditas strategis yang mendapatkan dukungan anggaran khusus dan subsidi sarana produksi, terutama pupuk.

Perluasan Lahan Tanam dan Target Produksi

Data dari Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumber Daya Lahan Pertanian (SDLP) menunjukkan potensi lahan budidaya bawang putih seluas 1,52 juta hektare yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Untuk tahun ini, pemerintah menetapkan target pengembangan lahan budidaya bawang putih seluas 5.000 hektare, dengan alokasi terbesar di Jawa Tengah (2.240 ha), diikuti NTB (762 ha), Sumatra Utara (563 ha), Jawa Timur (358 ha), dan Jawa Barat (245 ha).

Dalam sebuah webinar, terungkap skenario lengkap pengembangan budidaya bawang putih. Pada tahun 2026, ditargetkan luas pengembangan untuk produksi benih mencapai 5.000 hektare dengan hasil 20.000 ton. Angka ini diharapkan meningkat signifikan pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2027, luas tanam ditargetkan 20.000 hektare dengan produksi benih 80.000 ton. Puncaknya pada 2028, luas penanaman mencapai 80.000 hektare yang menghasilkan 120.000 ton benih dan 320.000 ton bawang konsumsi. Pada 2029, luas tanam 120.000 hektare diharapkan mampu memproduksi 120.000 ton benih dan 630.000 ton bawang konsumsi.

Agung mengakui adanya tantangan dalam mencapai swasembada, termasuk peningkatan daya saing dari aspek ukuran dan harga, peningkatan konsumsi bawang putih lokal, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) petani. “Dengan tantangan impor bawang putih yang tinggi, harus ada langkah bertahap menurunkannya. Pemerintah telah membuat skenario pencapaian swasembada benih dan bawang putih konsumsi,” jelasnya.

Peran Pupuk dan Benih Unggul

Vice President Pengelolaan Pelanggan PT Pupuk Indonesia, Robin Radhian Lee, menekankan pentingnya pemupukan sebagai faktor kunci peningkatan produktivitas bawang putih, dengan kontribusi mencapai 25%. Ia menekankan pentingnya optimalisasi penggunaan pupuk subsidi bawang putih melalui prinsip “lima tepat”: Tepat Sasaran, Tepat Jenis, Tepat Dosis, Tepat Waktu, dan Tepat Cara.

Robin menjelaskan bahwa keseimbangan rasio Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), dan Sulfur (S) sangat krusial untuk laju fotosintesis, pembentukan anakan, serta aroma dan kekerasan umbi. Pupuk Indonesia merekomendasikan standar nasional untuk mencapai target potensi produktivitas panen 10-15 ton umbi basah per hektare. Dosis pupuk urea yang direkomendasikan adalah 300 kg per hektare, diaplikasikan pada fase vegetatif 15 dan 35 Hari Setelah Tanam (HST). Sementara NPK 15-15-15 sebanyak 600 kg per hektare diaplikasikan bertahap pada 15 HST, 35 HST, dan dominan pada 50-55 HST.

“Kami mendukung pemerintah untuk mencapai swasembada. Kami siap berkolaborasi untuk meningkatkan pencapaian swasembada bawang putih,” tandas Robin.

Kepala Pusat BRMP Hortikultura Inti Pertiwi, Nashwari, mengidentifikasi beberapa permasalahan utama bawang putih di dalam negeri, meliputi keterbatasan lahan yang sesuai, ketersediaan benih bermutu yang belum memadai, produktivitas dan efisiensi budidaya yang masih rendah, serta serangan hama dan penyakit. Selain itu, biaya produksi yang tinggi, risiko gagal panen akibat iklim dan cuaca, daya saing bawang putih lokal yang rendah terhadap impor, serta kendala sarana dan prasarana pascapanen turut menjadi tantangan.

Untuk mengatasi hal ini, BRMP Hortikultura menyiapkan strategi peningkatan produksi bawang putih, salah satunya dengan memperkuat sistem perbenihan. Ini mencakup perakitan varietas unggul baru (VUB) yang adaptif terhadap perubahan iklim dan dapat tumbuh di dataran medium, serta pengembangan teknologi perbenihan yang cepat dan massal seperti kultur jaringan.

Saat ini, produksi benih sumber BRMP Hortikultura untuk tahun 2026 ditargetkan mencapai 593 ton dari luas lahan 177 hektare yang tersebar di berbagai provinsi. “Kita juga terus mencari teknologi agar ke depan bawang putih juga bisa ditanam off-season. Selain itu, melakukan pemurnian untuk meningkatkan kelas benih. Kita lakukan kajian riset benih sumber. Selama ini, banyak benih dari sentra produksi bawang putih banyak tercampur,” ujar Nashwari.

BRMP Hortikultura juga akan menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Bawang Putih untuk meningkatkan produktivitas hingga 20 ton per hektare melalui teknologi Produksi Lipat Ganda (Proliga). “Kami siapkan acuan cara budidaya yang baik dengan sistem pertanian modern. Dari mulai penggunaan benih, termasuk pupuk, tenaga kerja, risiko pascapanen dan biaya margin,” pungkasnya.