— JAKARTA – Petinggi emiten pertambangan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menunjukkan pola transaksi saham yang berlawanan. Direktur Keuangan (CFO) BYAN, Alastair Gordon Christopher McLeod, tercatat melakukan divestasi, sementara petinggi BRMS, Adika Aryasthana Bakrie, justru melakukan pembelian saham.

Alastair Gordon Christopher McLeod tercatat menjual saham BYAN dalam dua hari berturut-turut, yaitu pada 21 dan 22 September 2026. Pada 21 September, ia melepas 185.200 saham BYAN dengan harga Rp13.352 per saham, menghasilkan keuntungan Rp2,47 miliar. Transaksi ini mengurangi porsi kepemilikan langsungnya menjadi 3.814.800 saham, setara dengan 0,01% hak suara.

Selanjutnya, pada 22 September, Alastair kembali menjual 542.300 saham BYAN di harga Rp13.373 per saham, senilai Rp7,25 miliar. Secara total, dari divestasi saham BYAN pada periode 21-22 September 2026, Alastair meraup Rp9,72 miliar.

Di sisi lain, Adika Aryasthana Bakrie, petinggi BRMS, memborong 750.500 saham BRMS pada 22 September 2026 dengan tujuan investasi. Nilai transaksi ini mencapai Rp498 juta, dengan harga per saham Rp665.

Perkembangan lain dari BYAN, emiten tambang batu bara terafiliasi Low Tuck Kwong ini telah mencabut status keadaan kahar (force majeure) yang sebelumnya membelit perseroan dan tiga anak usahanya: PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP). Menurut Alastair McLeod, pencabutan ini dimungkinkan setelah ketiga anak usaha tersebut menerima persetujuan lengkap atas perubahan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tahun 2026 dari Kementerian ESDM pada 23 September 2026.

“Dengan diterimanya persetujuan atas perubahan RKAB tahun 2026 tersebut, maka TA, TJ, dan FSP dapat kembali melakukan persiapan kegiatan operasional pertambangan batu bara dan perseroan sebagai produsen batu bara yang bergerak di bidang pertambangan batu bara dapat kembali melaksanakan kegiatan pengangkutan dan penjualan batu bara,” ungkap Alastair, Kamis (24/9/2026).

Pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026), saham BYAN terkoreksi 1,42% atau 175 poin ke posisi 12.150, turun dari penutupan sebelumnya di Rp12.300. Saham BRMS juga mengalami pelemahan sebesar 2,16% atau 15 poin ke level Rp680, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp695 per saham.