DailyFX.ID — NEW YORK – Presiden Grup Bank Dunia, Ajay Banga, menyatakan bahwa prospek pembangunan pusat data yang didukung kecerdasan buatan (AI) di negara-negara berkembang sangatlah minim. Menurutnya, ketersediaan pasokan listrik yang terbatas dan tingginya biaya modal menjadi hambatan utama yang menyulitkan negara berkembang untuk menyediakan energi yang dibutuhkan untuk pemrosesan data AI.
Pernyataan ini disampaikan Banga di sela-sela acara Pekan Iklim (Climate Week) di New York. Ia menegaskan bahwa spekulasi mengenai ekspansi pesat pusat data ke pasar berkembang tidak realistis, baik dalam jangka pendek maupun menengah. “Negara-negara berkembang tidak memiliki banyak pusat data, dan teknologi tersebut tidak akan hadir dalam waktu dekat di sana. Anda membutuhkan daya komputasi yang sangat besar. Anda butuh listrik dalam jumlah melimpah, bahkan melebihi kapasitas yang dimiliki oleh sejumlah negara maju, apalagi negara-negara berkembang,” ujar Banga.
Tantangan Multisektor dalam Pembangunan Infrastruktur Data
Banga menjelaskan bahwa kendala pembangunan infrastruktur data di negara berkembang tidak hanya sebatas ketersediaan daya listrik. Pengoperasian pusat data tingkat tinggi menuntut kesiapan ekosistem digital yang utuh. Ekosistem ini mencakup beberapa elemen penting, yaitu aliran data yang besar dan aman, ketersediaan tenaga ahli di bidang pemrosesan data, serta investasi modal yang signifikan untuk membangun dan merawat fasilitas berteknologi tinggi.
Ia menambahkan bahwa sangat sedikit negara berkembang yang saat ini memiliki kombinasi ideal dari ketiga faktor pendukung tersebut.
Konsumsi Listrik AI dan Dampak Lingkungan
Pandangan Presiden Bank Dunia ini muncul di tengah meningkatnya perdebatan global mengenai dampak lingkungan dari pusat data AI. Operasional fasilitas ini diketahui menguras sumber daya listrik, air untuk pendinginan, hingga penguasaan lahan, yang kerap menuai kritik dari berbagai kalangan.
Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan bahwa konsumsi listrik oleh pusat data secara global akan melonjak dua kali lipat pada akhir dekade ini. Pada tahun 2030, fasilitas pusat data diperkirakan akan menyerap hingga 3% dari total permintaan listrik dunia.
Kondisi ini menciptakan dilema bagi negara berkembang yang masih berjuang memenuhi kebutuhan listrik dasar bagi masyarakat dan industri domestik. Sulit bagi mereka untuk memprioritaskan alokasi energi untuk infrastruktur komputasi AI. Pesan dari Bank Dunia menggarisbawahi makin lebarnya jurang pemisah digital antara negara maju dan berkembang di era AI.
Pengembangan model AI generatif membutuhkan pusat data berskala raksasa yang mengonsumsi daya listrik setara dengan kebutuhan ribuan rumah tangga. Di sisi lain, sebagian besar negara berkembang masih menghadapi tantangan ketahanan energi dan keterbatasan jaringan transmisi listrik. Mengalihkan pasokan energi yang terbatas demi mendukung operasional pusat data berpotensi mengganggu stabilitas listrik publik dan menghambat target transisi energi bersih.
Tanpa terobosan efisiensi energi dan dukungan pendanaan internasional, pembangunan infrastruktur AI diprediksi akan tetap terkonsentrasi di negara-negara maju.
Ikuti DailyFX.ID
