DailyFX.ID — JAKARTA – Perdagangan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (15/9/2026) mencatatkan nilai transaksi yang signifikan. Data RTI per pukul 10.44 WIB menunjukkan adanya transaksi 407.620 lot saham BBCA di pasar negosiasi dengan harga Rp 6.437 per saham, yang dilakukan dalam satu kali frekuensi. Total nilai transaksi mencapai Rp 262,4 miliar.
Sementara itu, di pasar reguler, saham BBCA mengalami pelemahan sebesar 1,54% dan diperdagangkan pada harga Rp 6.400. Hingga berita ini disusun, sebanyak 33,65 juta saham BBCA telah diperdagangkan dengan 7.910 kali frekuensi, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp 218,4 miliar. Pergerakan ini merupakan pembalikan dari penguatan 2,77% yang sempat dicapai saham BBCA pada perdagangan Senin (14/9/2026).
Analis KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBCA dengan menetapkan target harga yang optimis di Rp 9.480. Target harga ini mencerminkan valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi tahun 2026, sementara saat ini saham BBCA diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali.
KB Valbury Sekuritas menilai bahwa meskipun kepercayaan pasar saat ini sedang menurun, kondisi valuasi tersebut membuka peluang terjadinya re-rating atau penilaian ulang valuasi saham apabila katalis positif mulai terealisasi. Beberapa katalis yang diidentifikasi dapat mendukung pergerakan saham BBCA antara lain potensi pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dari perkiraan, yang dapat memperkuat Net Interest Margin (NIM).
Selain itu, faktor lain yang diperhitungkan adalah potensi penurunan cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan. Hal ini dapat terjadi jika kebutuhan pembentukan pencadangan tetap terbatas dan kualitas aset terus menunjukkan perbaikan. Perbaikan sentimen pasar domestik dan global juga menjadi katalis penting yang dicermati.
Meskipun demikian, KB Valbury Sekuritas juga mencatat sejumlah risiko yang berpotensi menekan proyeksi kinerja BBCA. Risiko tersebut meliputi kemungkinan pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit yang lebih rendah dari perkiraan. Faktor lainnya adalah potensi biaya pendanaan serta CoC yang lebih tinggi dari estimasi, serta penurunan NIM yang lebih dalam dari perkiraan.
KB Valbury Sekuritas juga mengamati potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai salah satu risiko yang perlu dicermati terhadap proyeksi kinerja BCA (BBCA).
Ikuti DailyFX.ID
