DailyFX.ID — JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksikan akan mencatat lonjakan laba bersih yang signifikan pada tahun 2026, diperkirakan mencapai US$ 229,1 juta. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 201% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Proyeksi ini menempatkan saham INCO sebagai salah satu instrumen investasi yang berpotensi memberikan keuntungan besar.
Kinerja keuangan Vale Indonesia yang diperkirakan akan menguat didukung oleh dua faktor utama: pemulihan produksi nikel matte dan lonjakan volume penjualan bijih nikel. Keduanya diharapkan memberikan kontribusi besar, terutama dari tambang di Pomalaa dan Bahodopi.
Analis MNC Sekuritas, Raka Junico W, menjelaskan bahwa kinerja emiten berkode saham INCO ini berpeluang semakin kuat pada paruh kedua tahun 2026. Pandangan optimistis ini muncul setelah perusahaan berhasil memulihkan produksi nikel matte dan mencatat kenaikan tajam dalam volume penjualan bijih nikel pada kuartal II-2026.
Pada kuartal II-2026, produksi nikel matte INCO mencapai 16,1 ribu ton. Angka ini naik 18,6% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq), meskipun masih tercatat turun 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).
Peningkatan produksi tersebut dimungkinkan oleh selesainya pembangunan kembali Furnace 3 pada Juni 2026. “Pemulihan fasilitas tersebut menjadi faktor penting bagi peningkatan produksi pada periode berikutnya,” ujar Raka dalam risetnya yang diterima pada Senin (24/8/2026).
Sepanjang semester I-2026, volume penjualan nikel matte INCO tercatat sebanyak 27,7 ribu ton. Jumlah ini setara dengan 42,7% dari target yang ditetapkan untuk tahun 2026. MNC Sekuritas memperkirakan volume penjualan nikel matte INCO akan mencapai 64,8 ribu ton sepanjang tahun 2026.
Namun, dorongan yang lebih signifikan diperkirakan datang dari penjualan bijih nikel. Volume penjualan dari blok Pomalaa melonjak drastis menjadi 1,26 juta ton pada kuartal II-2026. Angka ini jauh melampaui realisasi pada kuartal I-2026 yang hanya 89 ribu ton, dan kuartal II-2025 yang sebesar 67 ribu ton.
Selain itu, penjualan bijih nikel dari Bahodopi juga menunjukkan peningkatan yang substansial, mencapai 1,07 juta ton atau tumbuh 21,3% secara kuartalan. “Penjualan bijih nikel dari Bahodopi juga meningkat menjadi 1,07 juta ton atau tumbuh 21,3% qoq,” ungkap Raka.
Secara agregat, volume penjualan bijih nikel INCO pada kuartal II-2026 mencapai 2,33 juta ton. Angka ini merupakan lonjakan sebesar 139,3% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Dengan peningkatan ini, total penjualan bijih nikel pada semester I-2026 mencapai 3,3 juta ton, berbanding terbalik dengan semester I-2025 yang hanya mencatat 147,5 ribu ton.
Kombinasi antara peningkatan volume penjualan bijih nikel dan pemulihan produksi nikel matte menjadi dasar bagi MNC Sekuritas untuk memperkirakan laba bersih INCO sepanjang 2026 akan melonjak 201% yoy menjadi US$ 229,1 juta.
Potensi Keuntungan dari Saham INCO
Pada kuartal II-2026, INCO berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 60,8 juta, menunjukkan pertumbuhan 39,3% secara kuartalan. Dengan capaian tersebut, laba bersih INCO pada semester I-2026 mencapai US$ 104,4 juta, melesat 313,4% secara tahunan.
Realisasi laba pada semester pertama tersebut setara dengan 45,6% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 46,8% dari estimasi konsensus analis untuk tahun 2026. “Walaupun realisasinya sedikit di bawah estimasi, kami menilai pencapaian tersebut masih sesuai dengan ekspektasi bahwa kinerja INCO akan lebih kuat pada paruh kedua tahun ini,” ujar Raka.
Meskipun demikian, MNC Sekuritas juga mencatat adanya sejumlah risiko yang berpotensi menekan proyeksi kinerja Vale Indonesia. Salah satu risiko utama adalah potensi penurunan harga nikel di bawah US$ 16.500 per ton. Risiko lainnya mencakup kemungkinan gangguan operasional di fasilitas produksi serta volume penjualan yang mungkin lebih rendah dari perkiraan.
Berdasarkan analisis tersebut, MNC Sekuritas kembali menegaskan rekomendasi beli untuk saham INCO. Target harga saham INCO dipatok pada Rp 7.000, yang mengindikasikan potensi keuntungan sebesar 32,7%. Target harga ini mencerminkan rasio EV/EBITDA sebesar 8,9 kali untuk proyeksi tahun 2026 dan 7,9 kali untuk proyeksi tahun 2027.
Ikuti DailyFX.ID
