— JAKARTA – Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan lonjakan signifikan pada perdagangan Senin (24/8/2026). Sekitar pukul 14.50 WIB, saham ADRO diperdagangkan di level Rp 2.630, menguat 3,14% dan mencapai level tertingginya dalam tiga bulan terakhir. Posisi ini nyaris menyentuh titik tertingginya dalam setahun terakhir yang berada di Rp 2.700.

Perdagangan saham ADRO hari itu tercatat melibatkan 42,72 juta saham dengan frekuensi 11.300 kali transaksi, menghasilkan nilai transaksi mencapai Rp 110,83 miliar. Pergerakan positif ini terjadi setelah tiga hari sebelumnya mayoritas saham ADRO mengalami pelemahan, diselingi satu kali stagnasi.

Lonjakan saham ADRO didorong oleh prospek pendapatan dari beroperasinya smelter aluminium yang dikelola oleh anak usaha PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI). Fasilitas ini diproyeksikan menjadi katalis penguatan saham ADRO, sejalan dengan target harga yang telah ditetapkan beberapa analis.

Analis dari DBS, dalam catatannya, menyebutkan bahwa mesin pendapatan ADRO lainnya juga menunjukkan performa positif tahun ini. Penguatan harga batu bara jenis hard cooking coal diperkirakan akan mendongkrak bisnis perdagangan perseroan. Selain itu, kenaikan strip ratio PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) membuka peluang pertumbuhan bisnis kontraktor.

“Ke depan, AADI berpotensi menaikkan strip ratio, ditopang oleh masih kuatnya prospek harga batu bara termal,” tulis DBS, dikutip Senin (17/8/2026).

DBS juga menyoroti bahwa PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) telah memulai penjualan aluminium pada Juni 2026, yang akan menambah sumber pendapatan bagi ADRO.

Rekomendasi dan Target Harga

Berdasarkan analisis tersebut, DBS mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ADRO dengan target harga Rp 3.200. Target harga ini ditetapkan menggunakan metode sum of parts (SOP) dan mencerminkan rasio harga terhadap pendapatan (PER) tahun 2026 sebesar 14 kali.

DBS menilai valuasi tersebut berada pada +1 standar deviasi dari rata-rata lima tahun. Pihaknya meyakini saham ADRO akan terus mengalami kenaikan valuasi, terutama seiring dengan rencana pemisahan bisnis batu bara termal. “Perseroan juga akan menuai laba bersih dari proyek aluminium KAI,” tutup DBS.