— JAKARTA – Prospek pertumbuhan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mendapatkan dorongan signifikan berkat tambahan alokasi spektrum yang diterima oleh operator telekomunikasi. Kondisi ini memicu munculnya target harga saham yang tinggi untuk MTEL. Di sisi lain, isu rencana merger antara MTEL dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali mencuat ke permukaan.

Analis MNC Sekuritas, Christian Sitorus, menilai bahwa tambahan alokasi spektrum bagi operator telekomunikasi akan meningkatkan kebutuhan akan kolokasi, pembangunan menara baru, ekspansi jaringan fiber, hingga layanan penyediaan daya listrik.

“Tambahan alokasi spektrum menjadi salah satu katalis pertumbuhan Mitratel (MTEL) dalam jangka menengah,” tulis Christian dalam risetnya yang dikutip pada Senin (24/8/2026).

Tiga operator telekomunikasi utama, yaitu PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT XL Axiata Tbk (EXCL), masing-masing telah berhasil mengamankan spektrum frekuensi sebesar 255 megahertz (MHz), 205 MHz, dan 217 MHz.

Alokasi spektrum pada pita 700 MHz dan 2,6 gigahertz (GHz) diperkirakan akan mendorong peningkatan kebutuhan kolokasi, yaitu praktik penempatan perangkat milik beberapa operator telekomunikasi pada infrastruktur menara yang sama.

Lebih lanjut, tambahan spektrum ini berpotensi memacu pembangunan menara baru serta perluasan jaringan fiber to the tower (FTTT), yang merujuk pada jaringan fiber optik yang terhubung langsung ke lokasi menara telekomunikasi.

Menurut Christian, katalis pertumbuhan emiten dengan kode saham MTEL ini tidak hanya terbatas pada bisnis menara. Mitratel juga berpeluang memanfaatkan peningkatan kebutuhan daya listrik di setiap lokasi menara yang diproyeksikan naik sekitar 1,5 kali lipat melalui layanan power as a service (PaaS).

Secara fundamental, operasional MTEL masih ditopang oleh ekspansi portofolio menara dan jaringan fiber yang berkelanjutan. Pada semester I-2026, jumlah menara perseroan tercatat mencapai 40.563 lokasi, menunjukkan peningkatan 2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Jumlah penyewa atau tenant tumbuh lebih impresif sebesar 4,9% yoy menjadi 63.866. Pertumbuhan ini berhasil mengangkat rasio penyewaan atau tenancy ratio, yang mengukur rata-rata jumlah penyewa pada setiap menara, menjadi 1,57 kali.

Ekspansi Mitratel juga meluas pada jaringan fiber, yang bertambah 8,8% yoy menjadi 59.239 kilometer. Pendapatan dari bisnis fiber mengalami kenaikan 7,7% yoy, mencapai Rp 309 miliar. MNC Sekuritas memperkirakan Mitratel menguasai sekitar 54% pangsa pasar fiber nasional. “Karena itu, monetisasi jaringan fiber dipandang sebagai salah satu sumber pertumbuhan penting bagi perseroan,” jelas Christian.

Target Harga Tinggi

Pada semester I-2026, MTEL berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,1 triliun, yang merupakan pertumbuhan 1,5% secara tahunan. Realisasi ini mencapai 51,2% dari estimasi MNC Sekuritas dan 50,3% dari konsensus analis untuk keseluruhan tahun 2026.

Pendapatan MTEL mencapai Rp 4,7 triliun, naik 2,1% yoy, dengan margin EBITDA yang tetap kuat di angka 82,9%. Berdasarkan fundamental yang solid ini, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham MTEL dengan target harga yang tergolong tinggi, yaitu Rp 650 per saham. Target ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham hingga 43%.

Target harga tersebut mencerminkan valuasi rasio enterprise value/earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EV/EBITDA) sebesar 8,9 kali untuk proyeksi tahun 2026.

Sementara itu, Mitratel dikabarkan kembali mengupayakan rencana penggabungan usaha (merger) dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Berdasarkan catatan Stockbit yang mengutip Bloomberg, MTEL dilaporkan telah meminta penasihat keuangan untuk mengajukan proposal dan berpotensi memilih bank yang akan membantu transaksi tersebut dalam beberapa pekan mendatang.

Pembahasan mengenai rencana merger antara MTEL dan TBIG ini masih terus berlangsung dan belum ada jaminan bahwa kesepakatan tersebut akan tercapai.