— JAKARTA – Revisi Harga Patokan Mineral (HPM) nikel berpotensi memberikan sentimen positif bagi saham-saham pertambangan logam. Saham seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) disebut menyimpan potensi keuntungan yang signifikan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menjelaskan bahwa revisi HPM nikel melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 363 Tahun 2026 bertujuan untuk mempersempit selisih antara harga acuan regulasi dengan kondisi keekonomian bijih nikel, terutama untuk jenis limonit berkadar rendah.

Penyesuaian ini merupakan langkah untuk mengatasi ketidaksesuaian antara harga acuan dan harga jual aktual. Dengan adanya penyesuaian, perusahaan tambang dan operator fasilitas high pressure acid leach (HPAL) diharapkan mendapatkan kepastian harga yang lebih baik. HPAL adalah proses pelindian bijih nikel bertekanan tinggi untuk menghasilkan bahan baku nikel.

Sebelumnya, revisi HPM melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 144 Tahun 2026 telah memperluas formula perhitungan. Formula tersebut mencakup nilai produk sampingan seperti kobalt (Co) dan kromium (Cr), serta penyesuaian kadar air. Namun, Andhika mencatat bahwa faktor koreksi yang lebih tinggi pada HPM limonit berkadar rendah berpotensi berada di atas harga transaksi aktual, yang dapat menimbulkan ketidaksesuaian dalam dasar pengenaan royalti.

Keputusan Menteri ESDM Nomor 363 Tahun 2026 kemudian menurunkan faktor koreksi untuk nikel (Ni) dan kobalt (Co) pada bijih dengan kadar Ni 1,2% atau di bawahnya. Penyesuaian ini membuat HPM menjadi lebih mendekati kondisi pasar. Untuk bijih dengan kadar Ni 1,2%, faktor koreksi (CF) Ni turun dari 26% menjadi 14%, dan CF Co turun dari 30% menjadi 17%. Perubahan terbesar terjadi pada limonit berkadar rendah, sementara bijih dengan kadar Ni di atas 1,2% tidak mengalami perubahan.

Potensi Keuntungan Saham Logam

Andhika menilai bahwa dampak revisi HPM paling terasa bagi PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Ketiga perusahaan ini memiliki eksposur terhadap penambangan limonit dan pengoperasian fasilitas HPAL.

HPM yang lebih rendah dapat memitigasi risiko harga acuan regulasi yang melebihi harga jual aktual. Bagi operator HPAL, manfaat utama dari revisi ini adalah peningkatan kepastian harga limonit, bukan penurunan biaya bahan baku secara langsung.

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan buy untuk beberapa saham pertambangan logam dengan target harga yang menarik. INCO dipatok dengan target harga Rp 8.000, memberikan potensi keuntungan 68%. MBMA memiliki target harga Rp 880 dengan potensi cuan 67,6%. NCKL ditargetkan pada Rp 1.300, menawarkan potensi keuntungan 39,7%.

Sementara itu, ANTM memiliki target harga Rp 4.400, dengan potensi keuntungan 35,8%. Namun, perlu dicatat bahwa ANTM memiliki eksposur yang relatif lebih rendah terhadap penyesuaian HPM limonit berkadar rendah dibandingkan tiga emiten lainnya.