DailyFX.ID — JAKARTA – Nilai tukar rupiah (IDR) diproyeksikan kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Kamis, 17 September 2026. Pelemahan tipis terjadi pada penutupan perdagangan Rabu (16/9/2026), di mana rupiah ditutup pada level Rp 17.696 per dolar AS, turun 2 poin atau 0,01% dari penutupan sebelumnya di Rp 17.694 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan kurs rupiah pada hari ini akan fluktuatif namun cenderung melemah, dengan kisaran di level Rp 17.690 – Rp 17.750 per dolar AS. Ia menjelaskan bahwa faktor utama yang memengaruhi pergerakan ini adalah dampak dari kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan di Timur Tengah.
Gangguan pasokan minyak global diperkirakan mencapai 4% hingga 5% akibat agresi Houthi terhadap Arab Saudi. Situasi ini diperparah oleh ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz, yang menyebabkan arus minyak melalui jalur perairan vital tersebut berada jauh di bawah tingkat sebelum masa konflik.
Selain itu, rupiah juga diprediksi akan bergerak lesu menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pasar memperhitungkan peluang sebesar hampir 92,4% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase dalam pertemuan kebijakan bulan September. Perhatian akan tertuju pada proyeksi ekonomi terbaru The Fed serta komentar Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.
Dari sisi domestik, rupiah rentan terhadap pelemahan menyusul rilis data utang luar negeri Indonesia yang mencapai US$ 453,4 miliar per Juli 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar 4,9% secara tahunan (YoY), terutama dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik di tengah penurunan ULN swasta.
Pergantian posisi Menteri Keuangan juga menjadi salah satu faktor yang diantisipasi memengaruhi pergerakan rupiah. Suahasil Nazara resmi menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pelantikan di Istana Kepresidenan pada Senin (14/9/2026). Ibrahim Assuaibi menambahkan, Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan disiplin serta kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Fokus utama adalah mempertahankan kapasitas fiskal untuk mendorong pertumbuhan, sembari memastikan penggunaan instrumen fiskal berjalan dengan aturan dan koordinasi yang jelas. Kredibilitas fiskal dinilai penting tidak hanya karena neraca pemerintah yang sehat, tetapi juga karena kesehatan tersebut menciptakan ruang bagi pemerintah untuk bertindak ketika terjadi guncangan ekonomi.
Ikuti DailyFX.ID
