— Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi akan melanjutkan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Selasa, 22 September 2026. Pada penutupan perdagangan Senin (21/9/2026), rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,50% ke level Rp 17.847 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun diproyeksikan berada di rentang Rp 17.840 hingga Rp 17.900 per dolar AS untuk perdagangan besok. Menurutnya, kurs rupiah rentan melemah akibat sentimen geopolitik di Timur Tengah yang masih membayangi pasar.

Ibrahim menambahkan, pelemahan rupiah juga diantisipasi berlanjut menjelang pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed). Pernyataan ini akan menjadi penentu arah kebijakan moneter bank sentral AS untuk bulan depan.

Dari sisi domestik, rupiah diprediksi melemah seiring perhatian pasar terhadap keputusan pemerintah dalam membentuk bursa komoditas guna mengendalikan harga. Selain itu, pasar juga akan mencermati keputusan Bank Indonesia di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi.

“Sebagian mengambil sikap hawkish, sebagian lainnya masih memiliki ruang pelonggaran dengan mempertahankan posisi suku bunga acuan. Namun melihat situasi inflasi global yang tinggi. Kemungkinan gubernur Bank Indonesia dalam rapat di hari Rabu akan menaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps,” ungkap Ibrahim.

Ibrahim juga menyoroti angka defisit anggaran yang berada di bawah batas aman 3% dari produk domestik bruto (PDB). Meskipun berfungsi sebagai pagar disiplin fiskal, angka tersebut dinilai belum menjamin ketahanan ekonomi nasional jika tidak diimbangi dengan kualitas belanja yang memadai.