— Nilai tukar rupiah (IDR) kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan perdagangan Jumat, 25 September 2026. Data pasar spot exchange pada pukul 09.05 WIB mencatat rupiah melemah 25 poin atau 0,14% ke posisi Rp 17.941 per dolar AS.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026), rupiah tercatat melemah 98 poin (0,55%) dan berakhir di level Rp 17.916 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini sejalan dengan pergerakan dolar AS yang sempat mencapai level tertinggi dalam dua bulan pada hari Kamis.

Penguatan dolar AS dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Data CME FedWatch menunjukkan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed bulan Oktober kini mencapai 68,6%, naik dari 55,4% pada pekan sebelumnya.

Indeks dolar AS sempat menguat 0,15% ke level 101,28, bahkan menyentuh 101,39, angka tertinggi sejak 29 Juli 2026. Kondisi ini memberikan tekanan pada mata uang utama lainnya.

Mata uang euro terpantau melemah 0,07% menjadi $1,1372 per dolar AS, setelah sempat jatuh ke level terendah sejak 28 Juli 2026 di $1,1358. Franc Swiss juga mengalami pelemahan 0,34% menjadi 0,828 per dolar AS.

Sementara itu, yen Jepang kembali melemah 0,32% terhadap dolar AS ke level 158,82 per dolar. Pelemahan ini terjadi meskipun Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menyatakan bahwa prinsip-prinsip intervensi mata uang terkoordinasi antara Jepang dan AS pada bulan Juli masih berlaku. Sentimen pasar tetap rapuh karena kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan pekan lalu dinilai belum cukup meyakinkan investor mengenai siklus pengetatan kebijakan yang lebih cepat.