DailyFX.ID — Presiden Rusia Vladimir Putin telah menandatangani dekrit yang memberikan wewenang kepada pemerintah untuk mengambil alih penguasaan sementara atas infrastruktur vital di seluruh negeri. Langkah ini diambil jika pemilik swasta dinilai gagal melindungi aset mereka dari meningkatnya serangan udara Ukraina.
Kebijakan baru ini resmi berlaku sejak awal pekan ini, seiring dengan peningkatan intensitas perang udara antara Rusia dan Ukraina. Serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina yang semakin jauh menembus wilayah Rusia tidak hanya memicu kelangkaan bahan bakar, tetapi juga membawa dampak perang semakin nyata dirasakan oleh masyarakat sipil Rusia.
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Ukraina meningkatkan gempuran terhadap pusat-pusat logistik Ozon, perusahaan e-commerce raksasa pesaing Wildberries, sebagai bagian dari strategi melumpuhkan perekonomian Rusia yang menopang perang. Dekrit tersebut menegaskan pengambilalihan dilakukan atas dasar meningkatnya ancaman terhadap keamanan fasilitas infrastruktur vital Federasi Rusia.
Sektor-sektor yang terdampak mencakup infrastruktur bahan bakar dan energi, telekomunikasi, fasilitas transportasi, hingga jaringan logistik. Jika pemilik fasilitas dinilai tidak mengambil langkah yang cukup untuk menjamin keamanan atau lambat memulihkan operasional pascaserangan, pemerintah berhak memberlakukan administrasi sementara. Keputusan ini secara efektif mengalihkan penguasaan atas properti, hak milik, hingga kepemilikan saham perusahaan swasta tersebut ke tangan negara.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan, pengusaha swasta kerap mengabaikan perlindungan aset mereka. “Cukup sering pemilik perusahaan tidak memberikan perhatian yang memadai untuk mengambil langkah-langkah keamanan, terutama pengamanan anti-drone,” tegas Peskov. Ia juga menyoroti dukungan negara-negara Barat terhadap Ukraina sebagai alasan utama Rusia harus mengambil langkah darurat demi keamanan nasional.
Sementara itu di garis depan pertahanan, Rusia terus mengintensifkan serangan rudal berkecepatan tinggi ke berbagai wilayah Ukraina. Pemerintah Rusia memanfaatkan celah menipisnya stok rudal sistem pertahanan udara Patriot buatan AS yang sangat diandalkan oleh Ukraina untuk melumpuhkan rudal balistik. Kelangkaan ini kian parah akibat krisis pasokan global di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa Rusia meluncurkan dua rudal dan 150 drone dalam satu malam. Meskipun berhasil menembak jatuh 124 drone, pertahanan udara Ukraina terus mendapat tekanan berat.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membenarkan pihaknya baru saja menerima pasokan amunisi tambahan, meski dalam jumlah yang sangat terbatas. “Kami telah menerima sejumlah kecil rudal Patriot. Saya tidak bisa sebutkan dari negara mana maupun jumlah pastinya, namun jumlahnya sangat sedikit. Kami membutuhkan jauh lebih banyak,” ungkap Zelensky usai bertemu Presiden Estonia.
Sejak pertengahan 2024 hingga 2026, strategi perang antara Rusia dan Ukraina bergeser secara signifikan menuju perang perusakan infrastruktur (infrastructure attrition war). Ukraina secara sistematis menargetkan kilang minyak, depo bahan bakar, serta pusat distribusi logistik di dalam wilayah Rusia untuk menggerogoti pendapatan negara dan pasokan logistik militer Kremlin.
Kebijakan pengambilalihan aset swasta oleh negara (statization) menandai babak baru dalam ekonomi perang Rusia. Hal ini mencakup peningkatan kontrol ekonomi oleh pemerintah Rusia atas sektor swasta vital untuk memastikan kelangsungan operasional industri strategis tanpa bergantung pada keputusan bisnis pemilik modal. Selain itu, keterbatasan pasokan sistem rudal pencegat seperti Patriot menunjukkan besarnya tekanan pada rantai pasok industri pertahanan global. Disrupsi pada rantai pasok pasokan energi dan e-commerce juga menunjukkan bahwa dampak perang kini makin dirasakan secara langsung oleh warga di kota-kota besar Rusia, menguji batas ketahanan domestik kedua belah pihak.
Ikuti DailyFX.ID
