DailyFX.ID — JAKARTA – Empat saham bank besar tercatat mengalami aksi jual bersih oleh investor asing pada sesi I perdagangan Jumat (18/9/2026). Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA menjadi yang paling disorot pasar karena mencatat net sell tertinggi.
Mengacu pada data Stockbit Sekuritas hingga jeda siang, saham BCA mengalami net sell asing dengan volume 35,44 juta saham, senilai Rp 222,05 miliar. Posisi kedua ditempati oleh saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net sell asing 25,45 juta saham atau senilai Rp 108,93 miliar.
Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga terkena net sell asing sebesar 18,87 miliar saham atau Rp 61,88 miliar. Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat net sell asing 4,38 juta saham atau Rp 16,13 miliar.
Kondisi ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali berada di zona merah pada perdagangan sesi I Jumat. IHSG tercatat turun 22,69 poin (0,35%) ke level 6.439, mengikuti bursa regional Asia yang bergerak beragam.
Keempat saham bank besar tersebut kompak mengalami tekanan harga. Saham BBCA melemah 1,97% pada jeda siang, BMRI turun 2,07%, BBRI melemah 1,80%, dan BBNI anjlok 2,14%.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai, investor masih mencermati sejumlah sentimen global. Isu-isu tersebut meliputi perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, hingga arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) dan Jepang.
Pergerakan harga minyak menjadi salah satu perhatian pasar setelah Arab Saudi melanjutkan aliran minyak melalui pipa East-West. Langkah ini meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi akibat gangguan pasokan energi.
Di sisi lain, Pilarmas menyebutkan, pasar masih mencerna kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan ini. “Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena The Fed masih membuka kemungkinan pengetatan tambahan pada akhir tahun untuk meredam tekanan harga yang dinilai masih tinggi,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Jumat (18/9/2026).
Sentimen dari Jepang juga turut menjadi perhatian. Bank Sentral Jepang (BOJ) menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%. Investor kini mencermati arah kebijakan BOJ selanjutnya di tengah meningkatnya tekanan inflasi dan upah.
Pasar juga menanti rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan para pemimpin negara-negara Teluk pada pekan depan. Pertemuan ini diharapkan membuka peluang bagi upaya diplomatik untuk meredakan konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, rencana pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping juga menjadi perhatian investor. “Pertemuan kedua pemimpin negara ekonomi terbesar dunia tersebut diharapkan membuka ruang bagi perbaikan hubungan bilateral. Namun, pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait sanksi, tarif, dan konflik geopolitik,” jelas Pilarmas.
Ikuti DailyFX.ID
