— JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpantau mengalami net sell atau penjualan bersih oleh investor asing pada perdagangan Selasa, 15 September 2026. Tren penjualan bersih ini telah berlangsung sejak 9 September 2026.

Meskipun demikian, besaran net sell asing harian menunjukkan tren penurunan. Pada 9 September, tercatat net sell sebesar Rp 638,62 miliar, kemudian berkurang menjadi sekitar Rp 500-an miliar pada 10 dan 11 September. Angka ini kembali menipis menjadi Rp 140,89 miliar pada 14 September, dan tercatat Rp 33,49 miliar pada 15 September.

Dalam periode 9-15 September, saham BBCA mayoritas ditutup melemah, hanya tercatat menghijau sekali. Pada penutupan perdagangan kemarin, saham BCA ditutup minus 1,54% ke level Rp 6.400. Dalam sepekan terakhir, saham emiten bank besar ini terkoreksi 4,12%.

Perubahan signifikan terjadi pada pekan kedua September ini, di mana saham BCA membukukan net sell asing sebesar Rp 1,48 triliun. Padahal, enam pekan sebelumnya, saham ini secara konsisten mencatatkan net buy asing.

Secara akumulasi untuk pekan berjalan ini, saham BCA masih mencatatkan net sell asing sebesar Rp 180,38 miliar.

Laporan DBS Group Research menyebutkan bahwa kepemilikan asing di saham BBCA mencapai 29,5% pada Agustus 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 4,3%. Porsi kepemilikan asing BBCA juga tercatat tertinggi dibandingkan tiga bank besar lainnya, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 26,9%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 26,2%, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 21,2%.

“Ini menegaskan BBCA kendaraan pilihan investor untuk mendapatkan eksposur sektor perbankan Indonesia,” tulis DBS Group Research.

Menjelang keputusan MSCI pada November 2026, DBS Group Research menilai BBCA menawarkan potensi kenaikan yang paling jelas dibandingkan saham bank lainnya.

Diskon dan Target Harga

DBS Group Research mencatat bahwa saham sektor perbankan Indonesia saat ini diperdagangkan pada valuasi yang murah, dengan Price to Book Value (PBV) hanya 2,4 kali, berada di bawah rata-rata 10 tahun. Kondisi ini dinilai lebih mencerminkan preferensi investor asing ketimbang fundamental bank.

DBS Group Research berpendapat bahwa seluruh risiko telah tercermin dalam valuasi saham bank saat ini. Bagi investor yang optimistis terhadap pemulihan pasar saham Indonesia, BBCA dapat menjadi pilihan investasi yang menarik.

Saat ini, DBS Group Research hanya merekomendasikan buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp 8.000, dan saham BRIS dengan target harga Rp 2.400 di sektor perbankan.