— JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melaporkan adanya peningkatan jumlah pemegang saham pada akhir Juli 2026. Data registrasi pemegang saham menunjukkan ada penambahan 4.381 investor baru, sehingga total menjadi 782.991 investor per akhir Juli 2026, naik dari 778.610 investor pada akhir Juni.

Sementara itu, jumlah saham free float perseroan sedikit mengalami penurunan menjadi 42,54% dari sebelumnya 42,57%. Kepemilikan saham terbesar masih dipegang oleh PT Danantara Asset Management yang menguasai 52,65% saham Bank Rakyat Indonesia.

Pergerakan saham BBRI sepanjang Juli 2026 menunjukkan tren positif dengan kenaikan mencapai 11,36%. Namun, pada perdagangan Senin (10/8/2026), saham BBRI mengalami koreksi dan ditutup melemah 1,28% ke level Rp 3.090. Perdagangan hari itu mencatat frekuensi 45.504 kali dengan nilai transaksi mencapai Rp 724,68 miliar, di mana investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 57,9 miliar.

Perubahan arah ini terjadi setelah dua hari bursa sebelumnya, 6 dan 7 Agustus, saham BBRI menunjukkan penguatan yang signifikan dengan adanya net buy dari investor asing. Bahkan pada Jumat (7/8/2026), net buy asing di BBRI sempat menembus Rp 506,88 miliar.

Menyikapi pergerakan saham ini, CGS International Sekuritas memproyeksikan adanya risiko penurunan pada Selasa (11/8/2026) dengan support pertama di 3.067 dan support kedua di 3.043. Namun, peluang kenaikan juga terbuka dengan resistance pertama di 3.137 dan resistance kedua di 3.183.

Analisis Positif dari JP Morgan

Di sisi lain, JP Morgan memberikan pandangan positif terhadap saham BBRI. Analis mereka merekomendasikan upgrade saham BBRI dengan target harga yang moderat. Riset JP Morgan menyoroti kekuatan bisnis BBRI dalam segmen kredit mikro yang berkontribusi besar pada profitabilitas.

Meskipun sempat mengalami pemburukan aset yang menghambat profitabilitas, JP Morgan melihat perbaikan signifikan berkat program pemerintah yang menyasar masyarakat bawah dan perbaikan internal perseroan. Hal ini diprediksi akan mendorong konsensus pasar untuk merevisi proyeksi kinerja keuangan BBRI.

JP Morgan menilai valuasi BBRI masih tergolong murah, yang berpotensi menjadi katalis kuat untuk reli sahamnya. Oleh karena itu, JP Morgan meng-upgrade saham BBRI menjadi overweight dengan target harga Rp 3.400. Target ini didasarkan pada asumsi PBV wajar 1,2 kali, ROE 17,4%, risk free rate 7%, biaya modal 15,4%, dan terminal growth rate 7%.

Target Harga Lebih Tinggi dari KB Valbury Sekuritas

KB Valbury Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBRI dengan target harga yang lebih tinggi, yakni Rp 4.010, menggunakan model Gordon Growth Model (GGM).

Target harga tersebut setara dengan price to book value (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi yang menarik, dengan P/B 2026 sebesar 1,2 kali, sedikit di bawah level -2 standar deviasi (-2SD) yang sebesar 1,5 kali.

Potensi katalis positif bagi saham BBRI meliputi pertumbuhan kredit yang melampaui ekspektasi, disertai penyesuaian imbal hasil kredit yang dapat membantu net interest margin (NIM) melebihi panduan 2026. Selain itu, potensi cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan seiring perbaikan kualitas aset juga menjadi faktor penting bagi pertumbuhan laba BBRI di tahun 2026.

Faktor lain yang dapat menjadi katalis utama pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP) adalah potensi pendapatan non-bunga yang lebih kuat. Namun, risiko utama yang perlu diwaspadai adalah pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi, kenaikan pencadangan yang jauh lebih besar, sentimen negatif domestik yang berlanjut, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.