— Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menunjukkan perubahan arah signifikan setelah investor asing mencatat net sell dalam dua hari perdagangan terakhir. Pada 14 September 2026, net sell asing tercatat sebesar Rp 14,73 miliar, dan jumlah ini meningkat menjadi Rp 99,94 miliar pada 15 September. Pada hari yang sama, harga saham BBRI ditutup melemah 2,35% ke level Rp 3.320.

Perubahan ini kontras dengan posisi sebelumnya, di mana pada 11 September 2026, saham Bank Rakyat Indonesia masih mencatatkan net buy investor asing mencapai Rp 120,44 miliar. Meskipun demikian, dalam sepekan terakhir, saham BBRI secara keseluruhan mencatat net sell asing sebesar Rp 79,60 miliar dengan penurunan harga saham 2,64%.

Proyeksi Rasio Dividen dan Penguatan Modal

Di sisi lain, Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diproyeksikan akan menormalkan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio menjadi sekitar 70% untuk tahun buku 2026, turun dari 92% pada tahun 2025. Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, dalam risetnya memperkirakan bahwa dalam jangka panjang, rasio pembayaran dividen BRI akan berada di kisaran 50%-60%.

Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, turut menyoroti proyeksi dividen BBRI. Menurutnya, BRI mulai menggeser prioritas penggunaan laba dari pembagian dividen tinggi menjadi penguatan modal guna mendukung pertumbuhan bisnis. Jason memprediksi rasio pembayaran dividen BBRI akan turun bertahap menuju 60% dari 92% pada tahun buku 2025.

Perubahan strategi ini perlu dilihat bersamaan dengan rencana BRI untuk kembali mendorong pertumbuhan kredit mikro. Strategi tersebut berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi perseroan untuk menahan laba dan mendanai ekspansi dari modal internal. Jason menambahkan, bagi investor yang mengandalkan BBRI sebagai saham dengan imbal hasil dividen tinggi, perubahan ini dapat mengurangi pendapatan pasif dalam jangka pendek, namun bertujuan memberikan kapasitas modal yang lebih besar untuk ekspansi bisnis.

Prospek Laba dan Kinerja Keuangan BBRI

Victoria menilai prospek laba BBRI akan tetap ditopang oleh pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP), peningkatan efisiensi, serta bantalan modal yang kuat. Faktor-faktor tersebut dinilai dapat membantu menjaga ketahanan laba BRI, meskipun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) masih menghadapi tekanan jangka pendek.

Pada kuartal II-2026, laba bersih setelah pajak (net profit after tax/NPAT) BBRI mencapai Rp 15,4 triliun. Angka ini mengalami penurunan 0,8% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq), namun menunjukkan pertumbuhan 22% secara tahunan (year on year/yoy).

Secara kumulatif, NPAT BBRI pada semester I-2026 mencapai Rp 30,9 triliun, tumbuh 17,5% yoy. Realisasi ini setara dengan 52% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 53% dari estimasi konsensus tahun 2026. PPOP tercatat naik 12,7% yoy, sementara pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) meningkat 9,9% menjadi Rp 80,5 triliun. NIM turun 10 basis poin menjadi 7,7%, namun masih berada dalam panduan 7,4%-7,8%.

Total kredit tumbuh 16,2% yoy dan 5,3% qoq menjadi Rp 1.645,5 triliun, melampaui panduan awal 7%-9%. Pertumbuhan kredit ini terutama ditopang oleh segmen korporasi dan komersial. Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan, dengan rasio kredit bermasalah bruto (gross non-performing loan/NPL) sebesar 2,9%, sementara kredit berisiko (loan at risk/LAR) turun menjadi 9,1%.

Rekomendasi Saham BBRI

Berdasarkan berbagai pertimbangan tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham BBRI dengan target harga Rp 4.050. Target harga ini mencerminkan price to book value (PBV) sebesar 1,9 kali untuk estimasi 2026 dan 1,8 kali untuk proyeksi 2027.

MNC Sekuritas menilai pertumbuhan PPOP, efisiensi yang berlanjut, dan modal yang kuat menjadi penopang utama ketahanan laba BBRI. Namun, risiko terhadap proyeksi tetap datang dari potensi perlambatan pertumbuhan kredit, pelemahan kondisi ekonomi makro, serta persaingan yang semakin ketat di segmen wholesale.