DailyFX.ID — Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami perubahan arah pada pekan 14-18 September 2026, ditandai dengan catatan net sell asing sebesar Rp 160,59 miliar secara mingguan. Angka ini berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya (7-11 September) yang mencatat net buy asing Rp 147,55 miliar.
Meskipun dibayangi oleh aksi jual investor asing, saham BBRI justru berhasil menguat 1,22% sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terutama didorong oleh performa pada Senin, 14 September 2026, di mana harga saham melonjak 3,98% dengan catatan net sell asing yang relatif tipis, hanya Rp 14,73 miliar.
Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, saham berkode BBRI telah mencatatkan kenaikan sebesar 6,09%, meskipun investor asing tercatat melakukan net sell senilai Rp 1,69 triliun.
Pemulihan Kualitas Aset Perkuat Prospek BBRI
Pemulihan kualitas aset menjadi faktor krusial yang kembali memperkuat prospek saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Kondisi ini membuka peluang bagi masuknya kembali dana investor asing ke saham BBRI, bahkan memunculkan target harga baru.
Pluang Maju Sekuritas menilai bahwa tekanan pada kualitas aset yang sempat membebani BRI selama dua tahun terakhir kini mulai mereda. Hal ini seiring dengan membaiknya kinerja kredit mikro dan penurunan biaya kredit.
“Biaya kredit turun ke bawah 4% untuk pertama kalinya sejak 2024 menjadi sinyal bahwa masalah yang membebani BRI selama dua tahun terakhir mulai teratasi,” ungkap Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Jason menambahkan bahwa penurunan non-performing loan (NPL) atau kredit bermasalah baru pada segmen mikro menjadi salah satu indikator perbaikan kinerja emiten bank besar berkode saham BBRI ini. NPL baru segmen mikro tercatat turun dari 5% pada kuartal I menjadi 4% pada kuartal II. Hal ini disertai pula dengan peningkatan kualitas kredit dari kategori kredit dalam perhatian khusus.
Selain itu, pertumbuhan current account saving account (CASA) mikro atau dana murah mikro juga mengalami percepatan. CASA mikro meningkat dari 2,4% secara tahunan (yoy) pada Januari menjadi 5,6% yoy pada Juli. “Ini sejalan dengan transformasi bisnis cabang sejak 2025,” jelas Jason.
BRI juga telah mengimplementasikan langkah mitigasi risiko melalui provisi konservatif terhadap eksposur emiten BUMN konstruksi yang berpotensi mengalami restrukturisasi.
Di sisi lain, BRI telah merealisasikan pembelian kembali (buyback) saham dengan penyerapan dana sekitar 18% dari pagu maksimal Rp 500 miliar. Realisasi buyback saham BBRI ini perlu dilihat dalam konteks yang tepat.
Menurut Jason, buyback tersebut bukan semata-mata program stabilisasi harga saham, melainkan bagian dari mekanisme pendanaan program kepemilikan saham karyawan dan direksi. Pelaksanaan buyback saham yang bertahap dan tidak agresif sejalan dengan tujuan program tersebut. Bagi investor, perhatian utama justru tetap tertuju pada pemulihan kualitas aset BBRI.
Rekomendasi dan Target Harga BBRI
Pluang Maju Sekuritas merekomendasikan buy saham BBRI dengan target harga Rp 3.850 dalam jangka waktu 12 bulan. Rekomendasi ini didukung oleh kombinasi pemulihan kualitas aset dan potensi masuknya dana investor asing.
Jason memperkirakan bahwa kepemilikan investor asing terhadap saham publik BBRI yang mencapai 56% masih memberikan ruang bagi potensi inflow lanjutan, terutama jika perbaikan kualitas aset semakin terlihat jelas.
Sementara itu, MNC Sekuritas dalam risetnya juga mempertahankan rekomendasi buy saham BBRI dengan target harga Rp 4.050. Target harga tersebut mencerminkan price to book value (PBV) sebesar 1,9 kali untuk estimasi tahun 2026 dan 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2027.
MNC Sekuritas menilai pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP), efisiensi yang berlanjut, dan modal yang kuat menjadi penopang utama ketahanan laba BBRI. Namun, risiko terhadap proyeksi tetap datang dari potensi perlambatan pertumbuhan kredit, kondisi ekonomi makro yang melemah, serta persaingan yang semakin ketat di segmen wholesale.
Ikuti DailyFX.ID
