— JAKARTA – Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Grup Salim, menjadi sorotan investor dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas periode 14-17 September 2026, saham BRMS menduduki peringkat teratas sebagai saham yang paling banyak diburu investor asing. Tercatat, investor asing melakukan aksi beli bersih atau net buy senilai Rp 303,29 miliar.

Kenaikan minat investor asing ini sejalan dengan lonjakan harga saham BRMS yang mencapai 8,89% sepanjang pekan berjalan. Pada penutupan perdagangan Kamis (17/9/2026), saham BRMS menguat 0,68% ke level Rp 735 per lembar. Padahal, dalam dua pekan sebelumnya, saham berkode BRMS terus mengalami net sell investor asing.

BRMS merupakan bagian dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI), emiten yang dikendalikan oleh Grup Bakrie dan Salim.

Perkembangan terbaru proyek tambang emas bawah tanah di Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, serta aktivitas eksplorasi tambang tembaga di Gorontalo menjadi salah satu faktor yang diungkapkan BRMS. Perseroan memastikan pembangunan infrastruktur tambang emas terus berjalan sesuai rencana.

Anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals (CPM), telah berhasil menyelesaikan pembangunan portal atau pintu masuk menuju tambang bawah tanah Poboya. Saat ini, panjang terowongan tambang telah menembus lebih dari 975 meter dengan kedalaman sekitar 140 meter dari permukaan tanah.

Direktur Utama & Chief Executive Officer (CEO) BRMS, Agus Projosasmito, menyatakan bahwa perusahaan terus berupaya memperkuat operasional di tengah berbagai faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi harga dan permintaan emas. “Kami cukup puas dengan kemajuan operasional. Terlepas dari faktor-faktor makro dan eksternal yang dapat memengaruhi harga dan permintaan emas di pasar domestik, kami tetap percaya terhadap fundamental BRMS yang kuat,” ujar Agus dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).

Fasilitas shaft ventilasi udara pertama di tambang bawah tanah Poboya telah selesai dibangun. Fasilitas kedua dilaporkan masih dalam tahap pengerjaan dan ditargetkan rampung pada semester I-2027. CPM diproyeksikan akan mulai menambang bijih emas berkadar tinggi, dengan estimasi di atas 3,2 gram per ton (g/t), dari tambang bawah tanah tersebut pada pertengahan 2027.

Selain pengembangan tambang bawah tanah, Bumi Resources Minerals juga menargetkan peningkatan kapasitas pabrik emas dari 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton bijih per hari. Target ini diharapkan selesai pada awal 2027. “Operasi pushback di Poboya, Palu sudah berhasil diselesaikan pada Juli lalu. Oleh karenanya, produksi emas dari tambang terbuka kami diharapkan meningkat pada semester II-2026,” kata Agus.

Di sektor tembaga, BRMS melalui PT Gorontalo Minerals (GM) saat ini tengah mengoperasikan empat unit alat pengeboran eksplorasi di lokasi tambang Cabang Kiri East, Gorontalo. GM berencana menambah aktivitas pengeboran pada tahun depan dengan mengoperasikan tujuh alat di tiga lokasi tambang di wilayah tersebut.

Hasil pengeboran ini ditargetkan dapat disampaikan dalam bentuk sumber daya mineral tembaga pada semester I-2027. Agus menambahkan bahwa pembangunan fasilitas baru dan pengembangan tambang bawah tanah akan menjadi faktor kunci dalam peningkatan produksi emas BRMS di tahun-tahun mendatang. “Pabrik emas baru dengan kapasitas 2.000 ton per hari dan penambangan bijih berkadar tinggi dari lokasi tambang emas bawah tanah, akan memungkinkan Bumi Resources Minerals untuk dapat terus meningkatkan produksi emas pada 2027 dan 2028,” pungkas Agus.