DailyFX.ID — JAKARTA – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu saham sektor komoditas yang menarik perhatian setelah mencatat aktivitas perdagangan tinggi.
Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), saham BUMI ditutup pada harga Rp 187 atau melonjak 4,4%, sekaligus menjadi salah satu saham dengan nilai dan volume transaksi terbesar.
Pengamat pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana mencermati peluang saham BUMI untuk melanjutkan penguatan secara teknikal. Namun, keberlanjutan pergerakan tersebut bergantung pada kemampuan saham BUMI mempertahankan momentum serta volume perdagangan.
“Target teknikal terdekat BUMI berada di level Rp 200. Apabila momentum penguatan berlanjut dan didukung volume perdagangan yang tetap terjaga, target berikutnya berada di level Rp 220,” ungkap Hendra dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).
Aktivitas transaksi saham BUMI yang tinggi menjadi faktor yang perlu dicermati dalam membaca pergerakan saham emiten Grup Bakrie dan Grup Salim ini. Kombinasi momentum harga dan besarnya aktivitas perdagangan menjadi fase penting dalam menentukan keberlanjutan tren penguatan harga saham BUMI.
Meski demikian, proyeksi teknikal tersebut tetap memiliki prasyarat. Hendra menekankan peluang menuju target Rp 200 dan kemudian Rp 220 berlaku selama momentum serta volume perdagangan BUMI tetap terjaga.
Bumi Resources (BUMI) baru saja merilis laporan keuangan semester I-2026. Emiten Grup Bakrie dan Grup Salim ini membukukan laba bersih US$ 72,3 juta pada semester I-2026, melonjak 87,4% dibandingkan US$ 38,6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan BUMI sepanjang enam bulan pertama 2026 meningkat 27,9% menjadi US$ 866,8 juta dari US$ 677,9 juta.
Pertumbuhan produksi, peningkatan efisiensi penambangan, dan pemulihan harga jual rata-rata batu bara menopang kinerja emiten berkode saham BUMI tersebut. “Perbaikan tersebut juga mendorong ekspansi margin dan peningkatan profitabilitas di seluruh lini usaha,” ungkap manajemen BUMI dalam keterangannya.
Mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 111, beban pokok pendapatan BUMI meningkat 26,3% menjadi US$ 720,8 juta dari US$ 570,9 juta. Laba bruto tumbuh lebih tinggi sebesar 36,3% menjadi US$ 145,9 juta dari US$ 107 juta.
Beban usaha meningkat 21,4% menjadi US$ 62,8 juta dari US$ 51,7 juta. Meski demikian, laba usaha BUMI melonjak 50,3% menjadi US$ 83,1 juta dibandingkan US$ 55,3 juta pada semester I-2025.
Margin usaha BUMI meningkat menjadi 9,6% dari 8,2%. Sementara itu, laba sebelum pajak naik 102,5% menjadi US$ 104,3 juta dari US$ 51,5 juta.
Pertumbuhan pendapatan BUMI sebesar 27,9% mampu menghasilkan kenaikan laba usaha sebesar 50,3% dan laba sebelum pajak sebesar 102,5%. “Perbaikan itu mencerminkan daya ungkit operasional yang kuat selama semester I-2026,” sebut manajemen BUMI.
Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 188,4% menjadi US$ 58,9 juta dari US$ 20,4 juta. Kenaikan tersebut melampaui pertumbuhan laba bersih perseroan secara keseluruhan.
Peningkatan itu antara lain mencerminkan tambahan kontribusi laba dari aset BUMI di Australia. Aset tersebut belum menjadi bagian dari basis perbandingan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ikuti DailyFX.ID
