DailyFX.ID — JAKARTA – Saham emiten rokok PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami pelemahan signifikan sepanjang pekan berjalan 14-17 September 2026, dengan total koreksi mencapai 10,96%. Pada penutupan perdagangan terakhir, saham berkode HMSP ini parkir di level Rp 650.
Menariknya, di tengah tren pelemahan tersebut, investor asing justru melakukan aksi beli bersih atau net buy senilai Rp 19,72 miliar pada periode 14-17 September 2026. Aksi ini berbanding terbalik dengan tiga pekan sebelumnya di mana investor asing secara konsisten mencatatkan net sell pada saham HMSP.
Secara valuasi, saham HM Sampoerna dinilai atraktif. Dengan price earning ratio (PER) 8,72 kali (trailing twelve months/TTM), valuasi ini berada di bawah standar deviasi PER HMSP selama tiga tahun terakhir yang tercatat di angka 10,09 kali.
Meskipun pasar saham bergejolak, PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna/HMSP) berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin industri hasil tembakau Indonesia pada semester I-2026. Perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp 56,5 triliun dan laba bersih Rp 4,2 triliun, dengan pangsa pasar sebesar 29,6%.
Namun, tantangan pasar yang semakin menantang membuat volume penjualan perseroan mengalami penurunan 1,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh pergeseran preferensi konsumen ke produk dengan harga lebih rendah atau downtrading, serta maraknya peredaran rokok ilegal.
Dampak terbesar penurunan penjualan tercatat pada segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang mengalami koreksi sebesar 13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Segmen SKT memegang peranan strategis bagi perekonomian nasional karena karakteristiknya yang padat karya dan keterkaitannya dengan aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Segmen ini mampu menciptakan puluhan ribu lapangan kerja, mayoritas di antaranya adalah perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Studi Universitas Airlangga tahun 2022 menunjukkan bahwa segmen SKT memiliki dampak ekonomi berganda (economic multiplier effect) sebesar 3,8 kali lipat. Ini berarti, setiap Rp 1.000 aktivitas ekonomi yang dihasilkan pabrik SKT berpotensi menciptakan perputaran ekonomi sekitar Rp 3.800 bagi masyarakat sekitar.
Presiden Direktur Sampoerna, Ivan Cahyadi, menyatakan, “SKT telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Sampoerna selama lebih dari satu abad, dan terus menjadi salah satu pilar strategis Perseroan. Kami akan terus memperkuat segmen ini sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha sekaligus menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan. Melalui kegiatan usaha kami, Sampoerna menciptakan sekitar 90 ribu lapangan kerja serta mengembangkan rantai nilai domestik, termasuk melalui kemitraan dengan 22.500 petani tembakau dan cengkih melalui mitra pemasok.”
Sampoerna juga menyambut baik keputusan Pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau. Kebijakan ini, bersama dengan upaya pemberantasan rokok ilegal, dinilai menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi industri legal. Hal ini memungkinkan industri untuk terus memperkuat ekosistem ekonomi nasional, berkontribusi pada penerimaan negara, dan penciptaan lapangan kerja.
Ke depan, Sampoerna berkomitmen untuk terus menciptakan nilai jangka panjang melalui inovasi yang berkelanjutan, pengembangan sumber daya manusia, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui ketiga pilar tersebut, Perseroan berupaya memperkuat daya saing usaha, mendorong penciptaan peluang ekonomi, serta menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat luas.
Ikuti DailyFX.ID
