— JAKARTA – Sektor saham properti masih menunjukkan daya tarik dari sisi valuasi, meskipun kinerja emiten pada semester I-2026 belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi pasar. Peluang penguatan pada paruh kedua tahun ini masih terbuka lebar, terutama didorong oleh potensi pemulihan prapenjualan atau marketing sales, khususnya dari peluncuran proyek-proyek properti premium.

Data yang dirilis oleh Indo Premier Sekuritas mencatat bahwa marketing sales untuk properti dengan harga di atas Rp2 miliar atau segmen premium hanya mengalami penurunan 2% secara kuartalan pada kuartal II-2026. Angka ini menunjukkan performa yang lebih baik jika dibandingkan dengan segmen properti nonpremium yang terkoreksi 9% pada periode yang sama.

“Permintaan dari segmen kelas atas diperkirakan tetap kuat dan akan menopang peluncuran proyek-proyek baru pada semester II-2026,” ujar Analis Indo Premier Sekuritas Halima Yefany dan Aurelia Barus dalam riset terbarunya pada Senin (10/8/2026). Kondisi ini diharapkan mampu membuka ruang pemulihan penjualan serta meningkatkan kinerja emiten properti di masa mendatang.

Pada semester I-2026, marketing sales properti dengan harga di atas Rp2 miliar pada PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencapai 80% dari total prapenjualan perseroan. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 75%. Hal serupa juga terlihat pada PT Ciputra Development Tbk (CTRA), di mana 67% marketing sales-nya didominasi oleh segmen premium, naik dari 61% pada tahun lalu.

Sementara itu, marketing sales properti premium PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mencapai 71% dari total prapenjualan perseroan di semester satu 2026, juga mengalami kenaikan dari 67% pada tahun lalu. Lebih spesifik lagi, marketing sales properti dengan harga di atas Rp5 miliar menyumbang 42% terhadap total prapenjualan perseroan.

Indo Premier Sekuritas menyebutkan, sejumlah proyek premium yang diprediksi akan menjadi penopang kinerja pada semester dua tahun ini antara lain Citra Bukit Golf Sentul dan klaster baru Citra Homes Halim milik CTRA, peluncuran resmi Eluna Apartment milik PWON, Nava Park II milik BSDE, serta proyek hunian premium PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) di Bogor. Peluncuran-peluncuran ini menjadi krusial mengingat pertumbuhan marketing sales sektor properti secara keseluruhan mulai menunjukkan tanda perlambatan.

Meskipun peluang pemulihan terbuka, Indo Premier Sekuritas masih meninjau kembali rekomendasi sektor properti. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan marketing sales yang mulai melambat berpotensi menekan kinerja laba emiten. Investor juga disarankan untuk mencermati kemampuan masing-masing emiten dalam menjaga penjualan sekaligus mengeksekusi peluncuran proyek baru secara efektif.

Valuasi Murah Sektor Properti

Dari sisi valuasi, Indo Premier menilai sektor properti masih tergolong murah. Sektor ini saat ini diperdagangkan dengan diskon sekitar 86% terhadap nilai aset bersihnya. Rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) tercatat di kisaran 6x, atau dua standar deviasi di bawah rata-rata historis sejak 2020.

Dengan valuasi yang rendah, permintaan segmen premium yang masih bertahan, serta agenda peluncuran proyek baru yang strategis, semester II-2026 dipandang sebagai periode penting bagi saham-saham properti. Namun, potensi penguatan lebih lanjut akan sangat bergantung pada realisasi penjualan dan kemampuan emiten dalam mengubah momentum tersebut menjadi pertumbuhan laba yang signifikan.

SMRA Menjadi Kandidat Unggulan

Pada kesempatan berbeda, Senior Market Analyst MNC Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) sebagai salah satu emiten yang memiliki prospek menarik di sektor ini. Menurut Nafan, SMRA telah membuktikan keberhasilannya dalam membangun dan mengembangkan kawasan kota mandiri terpadu yang didukung infrastruktur lengkap, seperti di Kelapa Gading, Serpong, dan Bekasi.

“Keberhasilan di kawasan matang tersebut berhasil direplikasi ke lokasi-lokasi pertumbuhan baru seperti Summarecon Bandung, Karawang, Makassar, Bogor, hingga Crown Gading. Portofolio kawasan yang tersebar luas ini secara signifikan mengurangi risiko ketergantungan pada satu wilayah geografis saja,” jelas Nafan dalam risetnya.

Selain penjualan properti residensial, jaringan Summarecon Mall yang berada di Serpong, Bekasi, Kelapa Gading, Bandung, dan yang terbaru di Bali, memberikan arus kas yang stabil melalui pendapatan sewa dan biaya layanan. Porsi pendapatan berulang (recurring income) yang tinggi ini menjadi penyangga penting ketika penjualan rumah menghadapi tekanan akibat dinamika suku bunga atau fluktuasi daya beli masyarakat.

Secara teknikal, Nafan menyebut SMRA berada dalam tren bullish dengan sinyal positif. Ia merekomendasikan saham SMRA dengan klasifikasi ‘Add’, menetapkan target harga pertama di Rp332, target kedua di Rp344, dan target ketiga di Rp394.

Sementara itu, Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana juga melihat peluang pada sejumlah saham properti lainnya. Ia merekomendasikan ‘Trading Buy’ untuk BSDE dengan rentang target harga Rp640-680. SMRA juga mendapatkan rekomendasi ‘Trading Buy’ dengan target harga Rp340-360.

Herditya menyarankan pendekatan ‘Wait and See’ untuk CTRA dan PWON. Rentang pergerakan CTRA diproyeksikan berada di kisaran support Rp590 dan resistance Rp625, sedangkan PWON diperkirakan bergerak antara support Rp258 dan resistance Rp270.