— Investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) senilai Rp 687,8 miliar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 11 Agustus 2026. Aksi ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,5%.

Tiga saham menjadi sasaran utama penjualan investor asing. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengalami net sell terbesar senilai Rp 173,4 miliar. Diikuti oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net sell Rp 169,2 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan net sell Rp 136,9 miliar.

Secara keseluruhan, total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini bertambah menjadi Rp 71,1 triliun, berdasarkan data BEI. Sebaliknya, transaksi beli bersih (net buy) terbanyak oleh investor asing terjadi pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencapai Rp 176,5 miliar, disusul oleh PT Antam Tbk (ANTM) dengan net buy Rp 75,1 miliar.

Pada penutupan perdagangan, IHSG melemah 97,4 poin atau 1,5% ke level 6.267,8. Dari total transaksi yang mencapai Rp 14,5 triliun, tercatat 148 saham menguat, 567 saham melemah, dan 248 saham stagnan.

Satu-satunya sektor yang berhasil menguat adalah sektor kesehatan dengan kenaikan 0,19%. Sementara itu, sektor perindustrian mengalami pelemahan terdalam sebesar 3,49%, diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer (2,6%), teknologi (2,5%), properti (1,89%), dan barang baku (1,79%). Sektor energi, infrastruktur, barang konsumen primer, keuangan, dan transportasi juga turut mengalami pelemahan.

Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, pasar cenderung bersikap hati-hati menjelang review MSCI Agustus. Pelaku pasar berharap reformasi yang dilakukan regulator pasar modal domestik dapat mendorong MSCI untuk mencabut status pembekuan saham Indonesia dalam tinjauan indeks tersebut.

Dari sisi eksternal, bursa regional Asia bergerak bervariasi setelah harapan terhadap kesepakatan perdamaian di Timur Tengah dan pembukaan kembali Selat Hormuz meredup. Di tengah tekanan eksternal tersebut, Pilarmas menyebutkan bahwa perkembangan pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi katalis positif bagi pasar. Pencalonan ini dinilai memberikan kepastian dan menjaga kesinambungan kebijakan moneter setelah pengunduran diri Perry Warjiyo, serta pengalaman Destry di BI diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.