— Wall Street kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa (11/8/2026), tertekan oleh aksi jual saham-saham teknologi dan ketidakpastian yang timbul dari konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan harga minyak mentah juga turut membebani sentimen pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat.

Indeks S&P 500 tercatat turun 0,32% ke level 7.728,20, menandai pelemahan selama dua hari berturut-turut. Indeks Nasdaq Composite terkoreksi 0,60% menjadi 26.445,45, sementara Dow Jones Industrial Average turun 184,13 poin atau 0,34% ke level 53.791,85.

Sektor teknologi menjadi salah satu kontributor utama pelemahan Wall Street. Sektor communication services memimpin penurunan S&P 500 dengan melemah lebih dari 2%. Pelemahan ini terutama dipicu oleh penurunan saham Alphabet dan AppLovin, masing-masing sebesar 3,8% dan hampir 6%.

Saham Alphabet telah berada di bawah tekanan dalam beberapa sesi terakhir. Saham perusahaan induk Google ini telah melemah dalam empat dari lima sesi perdagangan terakhir sejak pengumuman perombakan divisi kecerdasan buatan (AI) pada pekan lalu.

Sektor information technology juga berakhir di zona merah. Saham Nvidia, yang sempat menguat di awal perdagangan, berbalik melemah dan ditutup sedikit di bawah posisi sebelumnya, meskipun perusahaan mengumumkan kemitraan strategis dengan enam perusahaan pengelola aset besar untuk mengerahkan lebih dari US$500 miliar guna mendukung pembangunan infrastruktur AI. Saham Apple juga mengalami penurunan lebih dari 1%.

Perkembangan konflik di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar. Harapan investor terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz semakin menipis setelah pejabat Iran kembali menegaskan bahwa jalur pelayaran tersebut tidak akan dibuka sebelum sejumlah tuntutan Iran terpenuhi.

Harga Minyak Melonjak

Ketidakpastian terkait Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah melonjak. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,3% menjadi US$ 83,20 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent, patokan global, menguat sekitar 1,4% menjadi US$ 88,91 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dapat memperbesar tekanan inflasi, terutama ketika investor juga tengah menunggu data ekonomi terbaru untuk memprediksi arah kebijakan suku bunga The Fed. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyatakan tidak ada kemungkinan dimulainya kembali negosiasi selama AS dinilai masih melanggar nota kesepahaman yang dicapai pada Juni dan belum memberikan kompensasi atas pelanggaran tersebut.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif memberikan sinyal yang lebih positif. Dalam wawancara dengan Bloomberg News, Asif mengatakan perkembangan kembali mengarah pada kemungkinan tercapainya kesepakatan damai.

Perhatian investor kini beralih ke data inflasi Amerika Serikat. Data indeks harga konsumen (CPI) Juli dijadwalkan rilis pada Rabu (12/8), sementara indeks harga produsen (PPI) akan terbit sehari setelahnya. Data inflasi ini dinilai penting bagi prospek kebijakan The Fed, terutama setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lemah membuat arah kebijakan bank sentral semakin sulit diprediksi.

Pasar kini menghadapi dua tekanan yang berlawanan. Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi, sementara perlambatan tajam perekrutan tenaga kerja meningkatkan kekhawatiran terhadap konsumsi dan pertumbuhan ekonomi AS. Chief Investment Officer Montis Financial Dennis Follmer memperkirakan inflasi konsumen AS masih akan melanjutkan tren penurunan, yang dapat memperkuat alasan The Fed untuk mempertahankan suku bunga. “Inflasi sektor jasa masih dapat menjadi persoalan yang sulit ditangani. Namun, sektor tersebut tidak terlalu sensitif terhadap suku bunga sehingga seharusnya tidak mengubah alasan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga,” ujar Follmer.