— JAKARTA – Kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) masih menghadapi tekanan signifikan, terutama akibat penurunan pendapatan dan laba bersih pada paruh pertama tahun 2026. Kondisi ini mendorong munculnya target harga terbaru untuk saham SIDO.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mencatat bahwa pendapatan Sido Muncul selama semester I-2026 mengalami penurunan 20% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 1,5 triliun. Laba bersih bahkan merosot lebih dalam, yakni 44% yoy menjadi Rp 334 miliar, jauh di bawah ekspektasi pasar.

Tekanan utama diperkirakan berasal dari proses normalisasi persediaan di tingkat distributor, khususnya pada segmen herbal dan suplemen seperti produk Tolak Angin. Fenomena ini menjadi faktor krusial yang menghambat kinerja emiten berkode saham SIDO tersebut pada paruh pertama tahun ini.

Meskipun demikian, kinerja Sido Muncul secara kuartalan menunjukkan sinyal perbaikan. Pada kuartal II-2026, pendapatan tercatat meningkat 29% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/qoq) menjadi Rp 826 miliar. Laba bersih juga mengalami kenaikan 27% qoq menjadi Rp 186 miliar.

“Perkembangan tersebut mengindikasikan tekanan yang berasal dari persediaan di tingkat distributor mulai berangsur mereda. Namun, tingkat profitabilitas SIDO masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” tulis Azis dalam risetnya, Rabu (26/8/2026).

Di tengah tantangan pada bisnis herbal, segmen makanan dan minuman (food and beverage/F&B) tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan SIDO. Pendapatan dari segmen ini meningkat 11% yoy menjadi Rp 760 miliar pada semester I-2026.

Pertumbuhan segmen F&B didorong oleh produk minuman energi, C+ Collagen, dan produk siap minum (ready to drink/RTD). Penjualan C+ Collagen dilaporkan tumbuh lebih dari lima kali lipat, sementara produk RTD mencatat peningkatan penjualan lebih dari dua kali lipat.

Ekspansi ke pasar internasional juga menunjukkan perkembangan positif. Kontribusi ekspor naik menjadi sekitar 13% terhadap total pendapatan, meningkat dari sebelumnya 10%. Malaysia masih menjadi pasar ekspor utama, diikuti oleh Filipina dan Nigeria.

Azis memperkirakan pemulihan kinerja SIDO akan berlangsung secara bertahap pada semester II-2026. Faktor penopang diperkirakan meliputi normalisasi distribusi, peningkatan kembali volume penjualan produk herbal, pertumbuhan F&B, peluncuran produk baru, serta ekspansi ekspor.

Namun, ia belum memproyeksikan margin SIDO dapat segera kembali ke level tahun 2025. Kenaikan biaya bahan baku, kemasan, logistik, serta biaya iklan dan promosi masih menjadi tekanan utama terhadap margin perusahaan.

Manajemen SIDO sendiri telah merevisi panduan pertumbuhan pendapatan tahun 2026 menjadi minus 10% yoy.

Target Harga Baru Saham SIDO

Berdasarkan estimasi Kiwoom Sekuritas, pendapatan SIDO diperkirakan turun 4,5% yoy menjadi Rp 3,9 triliun pada 2026. Pendapatan kemudian diproyeksikan kembali tumbuh 3,1% pada 2027 dan 6,6% pada 2028.

Sementara itu, laba bersih SIDO diperkirakan turun 8,3% yoy menjadi Rp 1,1 triliun pada 2026. Margin laba bersih (net profit margin/NPM) diprediksi turun ke kisaran 29%.

Berdasarkan estimasi 2026, saham SIDO diperdagangkan pada price to earnings ratio (P/E) sebesar 10,5 kali dan price to book value (P/BV) mencapai 3,6 kali. Rasio EV/EBITDA tercatat sebesar 7,1 kali.

SIDO juga menawarkan imbal hasil dividen (dividend yield) sebesar 9,4%. Namun, Kiwoom Sekuritas mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi proyeksinya. Hal ini termasuk jika pemulihan volume penjualan produk herbal lebih lambat dari perkiraan, serta proses normalisasi persediaan distributor yang berlangsung lebih panjang.

Risiko lain yang perlu dicermati adalah kenaikan biaya bahan baku dan kemasan, peningkatan biaya iklan dan promosi, biaya logistik, pelemahan daya beli konsumen, hingga risiko eksekusi peluncuran produk baru dan ekspansi ekspor. Persaingan yang semakin ketat juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Dengan mempertimbangkan prospek dan berbagai risiko tersebut, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold untuk saham Sido Muncul (SIDO).

Target harga saham SIDO dalam 12 bulan ke depan ditetapkan sebesar Rp 394. Target harga baru ini merupakan penurunan dari sebelumnya yang berada di angka Rp 420.