— JAKARTA – Harga emas diprediksi akan terus melanjutkan penguatannya seiring dengan melemahnya hubungan antara logam mulia tersebut dengan suku bunga riil. Prediksi ini disampaikan oleh analis di Standard Chartered, bank ternama asal Inggris.

Meskipun suku bunga The Fed yang lebih tinggi dan potensi penguatan dolar AS dapat memicu volatilitas harga dalam jangka pendek, harga emas pada Selasa (22/9/2026) tercatat menguat 0,42% ke level US$ 4.361,64 per troy ounce.

Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered, Suki Cooper, mencatat bahwa harga emas telah pulih dari penurunan pasca-kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pekan lalu. Saat ini, emas tengah berjalan menuju level support teknis di sekitar rata-rata pergerakan (moving average) selama 50 hari.

Cooper menyoroti adanya pergeseran yang sangat signifikan di pasar global. Ia melihat perubahan drastis ekspektasi kebijakan moneter sepanjang tahun ini. Pada awal 2026, pasar memperhitungkan dua kali pemangkasan suku bunga Federal Reserve, sementara harga emas diperdagangkan di kisaran US$ 4.500 per troy ounce.

Kini, harga emas diperdagangkan hanya sedikit di bawah level tersebut, meskipun The Fed telah menaikkan suku bunga dan pasar memperkirakan adanya kenaikan lanjutan sebelum akhir tahun. Cooper menyebutkan, fokus pasar tampaknya beralih dari kebijakan moneter jangka pendek menuju kekhawatiran yang lebih luas terkait dedolarisasi, penurunan nilai mata uang, serta risiko intervensi pasar.

Meskipun harga emas masih menunjukkan fluktuasi, Cooper menilai permintaan dari sektor resmi terus memberikan dukungan yang konsisten terhadap emas.

Ke depan, Standard Chartered memproyeksikan harga emas akan berada di kisaran rata-rata US$ 4.650 per troy ounce pada kuartal terakhir 2026. Terlepas dari prospek bullish menjelang akhir tahun, Cooper menyebutkan bahwa emas masih menghadapi beberapa potensi hambatan.

Ia menilai bahwa dolar AS dapat menjadi risiko jangka pendek yang lebih signifikan bagi emas dibandingkan dengan imbal hasil riil.