DailyFX.ID — Bank of Japan (BOJ) baru saja mengumumkan keputusan bersejarah dengan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,25%. Keputusan ini menandai level suku bunga tertinggi yang pernah dicapai di Jepang sejak tahun 1995, sebuah rekor dalam 31 tahun terakhir.
Secara teori ekonomi konvensional, kenaikan suku bunga acuan sebuah bank sentral biasanya berdampak pada penguatan mata uang domestik, peningkatan imbal hasil obligasi, dan pelemahan pasar saham. Namun, pasar keuangan Jepang justru menunjukkan respons yang berkebalikan dan anomali.
Alih-alih menguat, nilai tukar yen justru mengalami pelemahan signifikan, bahkan menembus level 157 yen terhadap dolar AS. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun terpantau merosot ke angka 2,947%. Di sisi lain, indeks saham Nikkei 225 justru melonjak tajam sebesar 1,5%.
Keputusan pengetatan moneter ini diambil hanya berselang tiga bulan dari penyesuaian kebijakan sebelumnya, mengindikasikan adanya percepatan dalam siklus pengetatan moneter yang dilakukan oleh BOJ.
Perpecahan Suara Dewan dan Sinyal Kurang Agresif
Para analis menilai anomali reaksi pasar ini sebagian besar dipicu oleh hasil pemungutan suara dewan BOJ yang menunjukkan adanya perpecahan. Keputusan kenaikan suku bunga hanya disetujui oleh mayoritas 7-2, dengan dua anggota dewan, Toichiro Asada dan Ayano Sato, menyatakan penolakan dan memilih untuk mempertahankan suku bunga pada level sebelumnya.
Argumen Asada didasarkan pada data inflasi inti Jepang di bulan Agustus 2026 yang menunjukkan penurunan menjadi 1,7% dari 1,8% di bulan sebelumnya, mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi belum cukup kuat untuk kenaikan suku bunga. Sementara itu, Sato berpendapat bahwa dinamika harga dan pertumbuhan ekonomi saat ini tidak menunjukkan percepatan yang berarti dibandingkan periode sebelumnya.
Hirofumi Suzuki, Strategis Mata Uang Utama di Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), menyatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan dewan ini cukup mengejutkan pasar. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa BOJ mungkin tidak akan mengambil langkah yang terlalu agresif atau hawkish di masa mendatang.
Selain itu, Masahiko Loo, Senior Fixed Income Strategist di State Street Investment Management, dan Shigeto Nagai, Kepala Ekonom Jepang di Oxford Economics, menambahkan bahwa ketiadaan laporan prospek kuartalan terbaru dalam pengumuman kali ini turut membatasi kemampuan BOJ untuk memberikan sinyal pengetatan moneter yang lebih jelas.
Tekanan dari AS dan Proyeksi Kenaikan Lanjutan
Langkah BOJ untuk terus menaikkan suku bunga ini terjadi di tengah adanya tekanan diplomatik dari Amerika Serikat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dilaporkan telah meminta Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dan Gubernur BOJ Kazuo Ueda untuk mengambil langkah moneter yang lebih tegas guna menstabilkan nilai tukar yen.
Tekanan dari AS ini tampak bertolak belakang dengan preferensi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang cenderung mendukung kebijakan moneter longgar dan ekspansi fiskal.
Meskipun demikian, mayoritas ekonom memproyeksikan bahwa BOJ masih akan membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini. Stefan Angrick, Kepala Ekonom Asia Pasifik Moody’s Analytics, bersama dengan Sam Jochim, seorang analis dari EFG International, memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga secara bertahap dapat berlanjut hingga mencapai puncaknya di kisaran 1,75% hingga 2% pada tahun 2027. Hal ini sejalan dengan upaya BOJ untuk menjaga inflasi inti di kisaran target 2%.
Keputusan BOJ menaikkan suku bunga ke tingkat tertinggi dalam tiga dekade terakhir ini merupakan bagian dari proses panjang untuk keluar dari era suku bunga negatif yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sejak Maret 2024, terlihat adanya siklus normalisasi kebijakan moneter yang dimulai dengan pengakhiran rezim suku bunga negatif dan dilanjutkan dengan kenaikan suku bunga acuan secara bertahap. Percepatan interval kenaikan dari enam bulan menjadi tiga bulan mencerminkan komitmen BOJ untuk menekan risiko lonjakan inflasi domestik.
Selanjutnya, depresiasi nilai tukar yen juga menjadi perhatian. Pelemahan nilai tukar yen secara historis kerap meningkatkan beban biaya impor bahan baku dan energi bagi masyarakat Jepang. Kondisi ini bahkan memicu aksi intervensi terkoordinasi antara otoritas keuangan Jepang dan AS demi menopang stabilitas mata uang yen.
Ekonomi Jepang juga tengah menghadapi dilema antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan gaji riil. Kendati inflasi bergerak di sekitar target 2%, BOJ dihadapkan pada risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat fluktuasi harga minyak dunia dan pertumbuhan gaji riil masyarakat yang belum sepenuhnya optimal. Hal ini membuat setiap keputusan kenaikan suku bunga berisiko menekan daya beli domestik jika tidak dilakukan dengan sangat hati-hati.
Ikuti DailyFX.ID
