DailyFX.ID — Pasar valuta asing (valas) diperkirakan akan menghadapi periode penuh gejolak pada September 2026. Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS), yen Jepang, dan dolar Australia menjadi sorotan utama di tengah berbagai faktor, termasuk keputusan bank sentral, kenaikan harga minyak, tekanan utang global, serta ketidakpastian perdagangan internasional.
Berdasarkan laporan Traders Outlook dari broker global Elev8, pergerakan mata uang sepanjang Agustus 2026 menunjukkan dinamika yang signifikan. Dari 22 mata uang yang dipantau, rand Afrika Selatan (ZAR) tampil sebagai mata uang dengan kinerja terbaik, sementara real Brasil (BRL) tercatat sebagai yang terlemah.
Di antara mata uang utama, dolar Australia (AUD) mencatat kinerja positif dengan kenaikan hampir 2% selama 20 sesi perdagangan. Sebaliknya, yen Jepang (JPY) mengalami pelemahan paling besar. Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) mengalami penurunan tipis sebesar 0,21%.
“Perbedaan kinerja mata uang negara berkembang juga terlihat mencolok. ZAR mendapat dukungan dari reformasi struktural, inflasi yang lebih rendah, serta kuatnya pendapatan komoditas,” tulis Elev8 dalam risetnya, Kamis (17/9/2026).
Sebaliknya, Brasil menghadapi tekanan fiskal dan ketidakpastian politik. Utang bruto Brasil dilaporkan meningkat lebih dari 10 poin persentase sejak Presiden Luiz Inácio Lula da Silva menjabat, mencapai 81,9% terhadap PDB pada Juni.
Dolar Australia mencatat penguatan didukung oleh kondisi ekonomi yang kondusif dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi. Peringkat kredit Australia yang tetap triple-A dengan prospek stabil menjadi salah satu faktor pendukung. Kenaikan harga komoditas, terutama bijih besi, tembaga, dan seng, juga memberikan dorongan tambahan.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA) turut berubah setelah data inflasi bulanan pada akhir Agustus menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan. Hal ini meningkatkan peluang kenaikan suku bunga RBA pada September menjadi lebih dari 50%, dari sekitar 16% sebelum data inflasi dirilis. Pasar juga memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir 2026.
Yen Masih Tertekan
Sementara itu, yen Jepang kehilangan penguatannya yang sempat diraih pada awal Agustus. Nilai tukar USD/JPY yang sempat berada di kisaran 155,20 kemudian kembali menembus level 157, 158, dan 159 sebelum akhirnya melewati 160 pada sesi terakhir Agustus.
Menurut Elev8, kesenjangan suku bunga antara AS dan Jepang masih menjadi faktor utama yang menekan yen. Meskipun Bank of Japan (BOJ) telah menaikkan suku bunga kebijakannya, tingkat suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) masih lebih tinggi.
Tekanan fiskal Jepang juga menjadi perhatian pasar. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun dilaporkan mencapai 2,945%, sementara imbal hasil tenor 30 tahun berada di 4,065% dan tenor 40 tahun di 4,16%.
Memasuki September, Elev8 mengidentifikasi sejumlah faktor yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar valas. Salah satunya adalah kebijakan moneter dari tiga bank sentral utama: The Fed, European Central Bank (ECB), dan BOJ.
Selain kebijakan moneter, harga minyak juga menjadi perhatian. Kenaikan harga minyak dapat memberikan keuntungan bagi negara eksportir seperti Kanada dan Norwegia, namun menekan negara importir seperti India, Thailand, dan Turki. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan inflasi dan memengaruhi keputusan bank sentral. Kondisi ini pada akhirnya dapat menekan aset berisiko seperti saham dan Bitcoin, serta mata uang yang sensitif terhadap risiko, termasuk AUD dan dolar Selandia Baru.
Risiko lain berasal dari utang global yang terus meningkat. Elev8 mencatat utang global telah mencapai US$353 triliun, sementara utang Amerika Serikat menembus US$40 triliun pada Agustus. Kebijakan perdagangan juga menjadi sumber ketidakpastian. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada dinilai dapat meningkatkan volatilitas dolar Kanada.
Ikuti DailyFX.ID
