— Harga emas menghadapi ujian setelah sikap hawkish sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) memperkuat dolar AS. Namun, pelemahan ini dipandang sebagai konsolidasi jangka pendek, dengan faktor struktural yang masih menopang prospek komoditas ini.

Head of Research Pluang, Jason Gozali, menjelaskan bahwa pergerakan harga emas dalam jangka panjang lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi defisit fiskal Amerika Serikat dibandingkan tingkat suku bunga. Kebijakan moneter The Fed dinilai hanya menjadi jalur transmisi, bukan faktor utama penggerak harga emas.

“Pluang tetap mempertahankan target harga emas sebesar US$ 5.200 dalam 12 bulan ke depan karena tren struktural emas masih kuat,” kata Jason dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Pluang mengacu pada data International Monetary Fund (IMF) yang memproyeksikan defisit fiskal Amerika Serikat akan tetap berada di atas 7% dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi ini menjadi salah satu faktor pendukung daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Selain itu, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) global diproyeksikan meningkat dari 82,1% pada 2019 menjadi 95,3% tahun ini. Sementara itu, rasio utang AS diperkirakan menuju 142% pada 2031.

Jason menambahkan, meningkatnya tekanan fiskal menjadi faktor penting dalam melihat arah harga emas. Dinamika utang pemerintah AS dapat mendorong permintaan terhadap aset yang dianggap mampu menjaga nilai.

Di sisi lain, langkah Departemen Keuangan AS yang melipatgandakan pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang untuk menekan imbal hasil (yield) justru memberikan sentimen positif bagi harga emas. Hal ini karena AS harus membiayai ulang utang melalui utang jangka pendek yang lebih rentan terhadap gejolak.

Oleh karena itu, Pluang melihat tekanan dari kebijakan moneter The Fed saat ini belum mengubah tren utama harga emas. Koreksi yang terjadi dinilai sebagai pergerakan jangka pendek di tengah faktor struktural yang masih mendukung kenaikan harga emas.